Jumat, 26 September 2008

Meninggal dalam Khusnul Khotimah, Insya Allah..

Oleh: M. Afif Hasbullah

Semalam (Senin, 22 September 2008 M/22 Ramadlan 1429 H) di Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan digelar Majlis Dzikir dan Jamaah Sholat Malam yang diselenggarakan oleh Jamiyyah Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah al Oestmaniyyah bersama Pengurus Daerah Al Khidmah dan Unisda Lamongan. Acara yang diselenggarakan di Halaman kampus tersebut berlangsung penuh khusyuk dan hikmat. Tidak kurang dari 10 ribu orang diperkirakan memadati halaman kampus, bahkan sampai meluber ke jalan raya Airlangga Sukodadi. Berpakaian putih-putih (busana sholat) dan dalam keadaan suci dari hadats, mereka melakukan ibadah shalat isya’ dan tarawih berjamaah, kemudian jeda sejenak dan dilanjutkan dengan pembacaan istighotsah, khotmil qur’an, tahlil, kemudian diakhiri dengan sholat malam yang terdiri dari sholat tashbih dan sholat li qodlo’il hajah.
Dalam untaian pembacaan tahlil, para jamaah melakukan dengan khidmat, bahkan beberapa diantara mereka histeris menjerit dalam ucapan dzikirnya. Menangis tersedu-sedu, haru dalam kekhusyukan yang amat mendalam. Demikian pula, ketika para jamaah memunajatkan permohonan mereka dalam doa yang dipimpin oleh Kyai Ali Syaerozi, mereka menangis mengharap segala dosa mereka diampuni dan dikabulkan segala hajatnya serta berdoa agar semua yang hadir akan mengakhiri hidupnya dengan khusnul khotimah.
Pada akhir acara, mendadak panitia mengumumkan adanya seseorang jamaah yang sakit/tidak sadarkan diri, meminta keluarga atau tetangga yang dekat datang ke panggung menunggui seorang Bapak yang sedang tidak sadar itu. Kerumunan jamaah segera mendekat ke pusat pengumuman. Betul, bahwa sang Bapak tua yang bernama Untung itu tidak dalam keadaan sadar atau terjaga. Seperti halnya sedang istirahat yang tenang. Namun apa yang terjadi dengan potret ketenangan seorang bapaka untung yang seolah sedang istirahat itu tidak terjadi pada istri atau keluarganya yang pada saat itu juga mengikuiti majlis dzikir. Mungkin yang sedang dirasakan oleh istrinya adalah rasa khawatir mengenai apa yang menimpa suaminya, jangan-jangan akan dipanggil oleh Allah SWT. Mungkin demikian yang dirasakan oleh sang Istri.
Jamaah yang lain yang mendampingi bapak yang sedang sakit itu, berusaha untuk memberikan pertolongan pertama, memberi air segar yang barangkali dapat menyadarkan bapak yang seolah istirahat dengan tenang itu. Sembari melafalkan La ilaha illallah Muhammad rasululloh.
Tidak lama kemudian, panitia mengantarkan bapak itu ke rumah sakit untuk diberikan penanganan medis. Namun Bapak itu sudah tidak ada. Telah kembali ke rahmatullah. Ke haribaan ilahi rabbi. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Apa yang terjadi dengan meninggalnya bapak Untung haruslah diikhlaskan, baik oleh keluarga maupun semua muslimin yang beriman, jika takdir ini menimpa siapapun. Bahkan apabila melihat saat, waktu dan tempat meninggalnya. Justru seorang yang beriman mestilah bersyukur dan ikut senang manakala ada saudara muslim yang meninggal dengan cara yang amat mulia.
Akhir hidup yang menyenangkan, adalah akhir hidup yang baik atau khusnul khotimah. Tiada faedah atau keutamaan yang dapat diunduh nanti di akherat atas kehidupan seorang di dunia kecuali meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Semoga kita dihindarkan dari akhir yang buruk dalam hidup kita atau su’ul khotimah.
Menginginkan Khusnul Khotimah
Semua kita tentu menginginkan akhir yang baik. Oleh karena itu, muslim harus memaksimalkan ketakwaan dan amal sholih, membiasakannya menjadi amalan sehari-hari dengan senantiasa mengingat kepada Allah. Beramal sholeh kepada sesama tentu menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan, dalam artian sebesar-besar kemanfaatan hidup untuk sesama.
Selain dari itu, agar supaya mendapat akhir yang baik senantiasa meningkatkan iman dengan selalu berdoa dan bermunajat untuk diakhirkan hidup kita dengan cara yang khusnul khotimah. Seorang yang beriman memang tidak diperbolehkan meminta untuk mati, apalagi bunuh diri untuk menghindari masalah dunia. Namun seorang muslim dan mu’min dianjurkan untuk berdoa hidupnya senantiasa tetap dalam iman, ketakwaan, amal sholeh dan meninggal khusnul khotimah. Dengan membiasakan ibadah mahdloh maupun ghoiru mahdloh yang diperintahkan dalam agama insya Allah akhir hidup kita mempunyai kemungkinan besar diakhiri dengan cara kebiasaan kita selama menjalankan perintah agama itu.
Takdir dijemputnya ajal seseorang oleh Malaikat Izrail tidak ada seorangpun yang mengetahui kecuali Penguasa dan Pemilik Jagat Raya Allah SWT. Namun mati adalah pasti. Ketika ajal telah sampai tidak ada seorangpun makhluq yang dapat menundanya, walaupun sedetik. Demikian pula, bila ada seorang anak manusia yang berkeinginan untuk mati, walaupun sudah sangat dekat sekali dengan pedang yang menghunus, kalau belum saatnya mati, dia tidak akan mati dengan pedang itu. Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (AL'ANKABUUT 57).
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya). (YUNUS 49).
Mati adalah suatu qepastian. Sedangqan ahqir dari qematian itulah yang lebih penting. Apaqah aqan meninggal dengan qhusnul qhotimah atau dengan suul qhotimah?. Tentu semua yang beriman menginginqan aqhir yang baiq. Yaqni meninggal dengan cara dan qategori atau pertanda qemuliaan.
Di antara tanda-tanda yang dilihat secara inderawi bahwa seseorang itu mendapat aqhir yang baiq adalah:
1. MENGUCAPKAN KALIMAH SYAHADAT KETIKA WAFAT
Rasulullah bersabda :"barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan "La ilaaha illallah" maka ia dimasukkan kedalam surga" (HR. Hakim)

2. KETIKA WAFAT DAHINYA BERKERINGAT
Ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,"Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya" (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas'ud)

3. WAFAT KETIKA MALAM JUM'AT
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah "Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum'at atau pada malam jum'at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur" (HR. Ahmad)

4. MATI SYAHID DALAM MEDAN PERANG
Mengenai hal ini Allah berfirman:
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman" (Ali Imraan:169-171)
Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak dijumpai diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Rasulullah bersabda:
"Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa'at bagi 70 orang kerabatnya" (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
2. Seorang sahabat Rasulullah berkata: " Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah dikuburan mereka kecuali yang mati syahid? beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang diatas kepalanya sebagai fitnah" (HR. an-Nasai)
CATATAN:
Dapatlah memperoleh mati syahid asalkan permintaannya benar-benar muncul dari lubuk hati dan penuh dengan keikhlasan, kendatipu ia tidak mendapatkan kesempatan mati syahid dalam peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya"(HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi)

5. MATI DALAM PEPERANGAN
Ada dua hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
1. Rasulullah bersabda:"Apa yang kalian katagorikan sebagai orang yang mati syahid diantara kalian? mereka menjawab :Wahai Rasulullah yang kami anggap sebagai orang yang mati syahid adalah siapa sja yang mati terbunuh dijalan Allah. Beliau bersabda:Kalau begitu ummatku yang mati syahid sangatlah sedikit. Para sahabat kembali bertanya:Kalau begitu siapa sajakah dari mereka yang mati syahid wahai Rasulullah? beliau menjawab: Barangsiapa yang terbunuh dijalan Allah, yang mati sedang berjuang dijalan Allah, dan yang mati karena penyakit kolera, yang mati karena penyakit perut (yakni disebabkan penyakit yang menyerang perut seperti busung lapar, diare atau sejenisnya) maka dialah syahid dan orang-orang yang mati tenggelam dialah syahid "(HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi)
2. Rasulullah bersabda: Siapa saja yang keluar dijalan Allah lalu mati atau terbunuh maka ia adalah mati syahid. Atau yang dibanting oleh kuda atau untanya lalu mati atau digigit binatang beracun atau mati diatas ranjangnya dengan kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka ia pun syahid dan baginya surga" (HR. Abu Daud,al-Hakim, dan al-Baihaqi)

6. MATI DISEBABKAN PENYAKIT KOLERA
Tentang ini banyak hadits Rasulullah meriwayatkannya diantaranya sebagai berikut:
1. Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin MAlik berkata:"Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: "Karena terserang penyakit kolera" ia berkata:Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim" (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad)
2. Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;"Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid"(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)

7. MATI KARENA TENGGELAM
8. MATI KARENA TERTIMPA RERUNTUHAN / TANAH LONGSOR
Dalil dari 2 point diatas adalah berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
"Para syuhada itu ada 5: orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan & syahid berperang di jalan Allah"
(HR.Imam Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

9. PEREMPUAN YANG MENINGGAL KARENA MELAHIRKAN
Ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya :
"Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? orang-orang yang ada menjawab:Muslim yang mati terbunuh" beliau bersabda:Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)"
(HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi) menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain dalam Musnad-nya.

10. MATI TERBAKAR
11. MATI KARENA PENYAKIT BUSUNG PERUT
Tentang kedua hal ini banyak sekali riwayat, dan yang paling masyhur adalah dari Jabir bin Atik secara marfu':
"Para Syuhada ada 7: mati terbunuh di jalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, karena busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid, karena terbakar adalah syahid & yang mati karena tertimpa reruntuhan (bangunan / tanah longsor) adalah syahid, serta wanita yang mati pada saat mengandung adalah syahid" (HR. Imam Malik, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu MAjah dan Ahmad)

12. MATI KARENA PENYAKIT TUBERCOLOSIS (TBC)
Ini berdasarakan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
"Mati dijalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid"(HR.Thabrani)

13. MATI KARENA MEMPERTAHANKAN HARTA DARI PERAMPOK
Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut:
1. "Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain; Barang siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh) adalah syahid"
(HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
2. Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata:
"Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku" beliau menjawab: 'jangan engkau berikan' Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? beliau menjawab; Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali,Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? beliau menjawab; ia masuk neraka"(HR. Imam Muslim, an-Nasa'i dan Ahmad)
3. Mukhariq berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata :
"ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku, Beliau bersabda: Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya: bila tetap saja tidak mau berdzikir? Beliau menjawab: mintalah orang di sekitarmu untuk mengatasinya. Orang itu bertanya lagi: Bila tidak saya dapati disekitarku seorangpun? Beliau menjawab: Serahkan & minta tolonglah kepada penguasa. Ia bertanya lagi: Bila penguasa itu jauh tempatnya dariku? Beliau bersabda: berkelahilah dengan membela hartamu hingga kau mati & menjadi mati syahid atau mencegah hartamu dirampas"
(HR. An-Nasa'i, dan Ahmad)

14 & 15 . MATI DALAM MEMBELA AGAMA & JIWA
Dalam hal ini ada dua riwayat hadits sebagai berikut:
1.""Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang matimempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid"(HR. Abu Daud, an-Nasa'i, at-tirmidzi, dan Ahmad)
2. "Barangsiapa mati dalam rangka menuntut haknya maka ia mati syahid"
(HR. An-Nasa'i)

16. MATI DALAM BERJAGA-JAGA (WASPADA) DI JALAN ALLAH
Dalam hal ini ada dua hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasslam :
1."Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur(fitnah kubur)"
(HR. Imam Muslim, an-Nasa'i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad)
2. "setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur"
(HR. ABu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad)

17. ORANG YANG MENINGGAL PADA SAAT MENGERJAKAN AMAL SALEH
Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
"Barangsiapa mengucapkan 'laa ilaaha illallah' dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga" (HR. Ahmad)
Doa yang dapat dimunajatqan qepada Allah SWT untuq mendapat qhusnul qhotimah.
Robbi Hablii hukmaw wa al hiqniy bish shoolihiin
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh” (Q.S. Asy-Syuaraa: 83)
Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa’ika
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan (jadikanlah) sebaik-baik hariku yaitu hari ketika aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat)” (Al Hadits).
Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang mati syahid amin.

Sabtu, 20 September 2008

Gelaran Sholat Malam Versus Konser Musik

Oleh: M. Afif Hasbullah


Tentu kita bertanya, ada apa gerangan dengan judul di atas? Masak memperbandingkan antara sholat dengan tetabuhan. Penulis tidak hendak memperbandingkan antara keduanya. Yang jelas walaupun sholat adalah kegiatan ibadah untuk Allah SWT, dengan syarat yang melakukannya dengan penuh keikhlasan dan keimanan. Namun sholat juga dapat menjadi duniawi tanpa spiritualitas sedikitpun, bila dilakukan dengan penuh riya untuk mendapat pujian, sanjungan atau penghargaan dari orang lain. Demikian pula, konser musik juga bisa menjadi hanya bernilai duniawi yang jauh dari unsur ukhrowi manakala di dalam pelaksanaannya jauh dari upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sholat bisa jadi tidak spiritual. Namun musik bisa spiritual. Tergantung bagaimana niat yang dibangun dan bagaimana bentuk pelaksanaannya. Sudahkah berdasarkan syara’?.


Pertanyaan di atas muncul ketika hendak dilaksanakannya gelaran sholat malam di Kampus Unisda, yang insyaallah dilaksanakan besok senin, 22 September 2008. Juga pertanyaan apakah sholat malam yang diorganisir dan diumumkan sedemikian rupa di koran, spanduk dan media radio justru akan menyebabkan riya’? demikianlah kekhawatiran yang ada.

Sehingga kemudian dibuatlah perbandingan oleh sementara panitia. Lha wong, wayang, dangdutan, orkesan saja dipublikasikan sedemikian rupa. Padahal yang disebut tadi cukup dekat dengan kemaksiatan. Di tempat pertunjukan biasa laki perempuan campur baur. Juga sudah lumrah ada minum-minuman keras.

”Apalagi Sholat malam. Sholat tahajjud kan baik. Masak tidak boleh diiklankan”. Demikian kata sebagian panitia. Panitia lain menyambut, ”dengan diiklankan justru syiar Islam dapat dilakukan secara luas. Sehingga keagungan acara keagamaan akan tercipta. Imej baik pun akan hadir disana”.

Yang jelas, kekhawatiran untuk publikasi acara keagamaan itu banyak ditimbulkan dari menghindari riya’. Namun juga akan kurang elok jika, hanya dengan kekhawatiran riya’ itu ummat Islam tidak terlihat kegiatannya. Menurut pendapat penulis, yang namanya riya’ mungkin-mungkin saja muncul di hati setiap pribadi. Karena riya’ itu sirr. Halus yang kadang timbul dalam kalbu manusia.

Riya’ memang harus dihindari. Tetapi dengan melatih terus menerus. Insyaallah akan hilang. Tentu dengan senantiasa belajar sabar, ikhlas, tuma’ninah serta istiqomah.