Tampilkan postingan dengan label keislaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keislaman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2009

“Membunuh Waktu” sekaligus Mendayagunakan Waktu


Oleh: M. Afif Hasbullah

Jum’at lalu (23 Januari 2009), pagi-pagi sekali sekira pukul 03.15 segera saya bergegas untuk mandi dan berkemas untuk menuju bandara Juanda. Pagi buta itu, saya berangkat menuju Jakarta dengan pesawat Mandala paling pagi, yakni pukul 06.00 persis. Kalau maskapai lain, biasanya suka telat-telat. Oleh karena itulah saya pilih Mandala, biasanya tepat waktu. Selain itu dengan pengalaman terbang sebelum-sebelumnya, apalagi dengan perbaikan manajemen di Mandala, cukup dapat dirasakan pelayanan penumpang dapat ditingkatkan. Termasuk dengan armadanya yang masih tergolong baru dan nyaman yakni Airbus A320.
Sepagi itu saya berangkatdengan tujuan agar beberapa pekerjaan selama di Jakarta bisa selesai dalam waktu sehari. Apalagi hari jum’at, kata orang hari pendek (padahal semua hari sama, 24 jam), maka saya berupaya untuk menyelesaikan semua tugas pada hari itu, tidak usah menginap. Tiket Pulang Pergi pun sudah saya pegang. Takut kehabisan tiket kalau belinya di Jakarta. Apalagi dengan kemungkinan macet dan hujan deras di Jakarta, saya memang jadi tidak ada pilihan untuk tidak berangkat pagi-pagi. Bahkan pulangnya pun saya ambil pesawat yang agak malam yakni pukul 20.20. Maksud saya biar tidak terburu waktu.
Perjalanan kali ini, saya hendak menuju ke beberapa tempat, yakni Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual(HAKI) di Jalan Daan Mogot KM 24, setelah itu saya baru ke Dikti di dekat Gelora Bung Karno Senayan. Sebelum beli tiket sebetulnya ada rencana ketiga, yakni menuju Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk mendaftarkan ISSN buat jurnalnya Fakultas Ekonomi Unisda. Namun karena pengurusan ISSN itu sudah saya daftarkan melalui internet dua hari sebelumnya, jadi saya tidak perlu lagi ke kantor LIPI di Gatot Subroto itu.
Setiba di Bandara Soetta Cengkareng,sekira pukul 07.15, saya bergegas sarapan lebih dahulu di salah satu restoran di lingkungan bandara. Maklum, dari rumah hanya minum teh hangat saja,perut sudah keroncong.
Setelah makan, saya cari taksi saja menuju Daan Mogot untuk mengambil sertifikat merek atas nama Unisda. Syukur alhamdulillah perjalanan lancar, sehingga sampai di Daan Mogot kira-kira baru pukul 09.00 pagi. Proses pengambilan sertifikat merek itu pun juga tidak makan waktu lama, hanya 10 menitan.
Segera setelah dapat sertifikat saya cari angkot ke jurusan Terminal Kalideres. Cukup tiga ribu sudah sampai di terminal itu. Langsung ganti angkutan menuju Senayan. Saya pilih naik busway saja, selain cepat juga murah. Cepat, karena busway punya jalan sendiri. Murah, karena tarip dari kalideres sampai Halte Gelora Bung Karno Senayan, dekat dikti itu, hanya Rp. 3500. Bayangkan kalau naik taksi udah habis berapa itu.
Perjalanan dari Daan Mogot hanya perlu waktu kira-kira 40 menit. Turun busway saya jalan sedikit ke Gedung dikti yang persis bersebelahan dengan Hotel Atlet Century. Di sana saya segera menuju lantai 6 tempat Direktorat Kelembagaan berkantor. Ternyata, Pak Darsono yang ingin saya temui belum datang. Beliau baru datang sekira pukul 11.30.
Setelah ketemu dengan Pak Dar, saya menuju masjid Depdiknas untuk menunaikan sholat Jum’at.Khotib Jum’at itu berkhotbah mengenai penyerbuan Israel ke Palaestina. Kata Khotib, Israel memang bangsa yang selama sejarah dunia senantiasa membuat onar. ”Banyak nabi diturunkan ke bangsa Israel, namun bangsa Israel tetap kembali membangkang dengan syari’at Allah”, demikian khotib tegas menyampaikan.
Jum’at itu di Masjid Depdiknas, infaq masjid akan disumbangkan ke warga muslim Palestina. Saya melihat kotak amal banyak ditambah dibandingbeberapa Jum’at lainnya yang saya sempat Jum’atan di sana.
Sekira pukul 13.00 siang, saya menuju Senayan City. Saya ingin menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak membosankan. Waktu saya di Jakarta masih beberapa jam lagi. Kalau harus bengong, sungguh membosankan. Pada sisi lain, kalau mau bertemu beberapa kolega saya belum ada janji. Mau ketemu tokoh-tokoh, juga belum ada janji ketemu. Jadi saya putuskan saja ke Mall yang ada di sekitar senayan itu.
Di senayan City itu ada beberapa tujuan saya untuk ”membunuh waktu”. Tujuan pertama makan siang di Restoran Sunda, kemudian ke Toko Growing Fun untuk membelikan anak-anak alat peraga pembelajaran matematika. Habis itu baru cari acara santai, yakni nonton film Burn After Read, yang dimulai persis ketika saya berada depan loket Bioskop XXI itu. Waktu masih juga terasa panjang ketika film sudah selesai, akhirnya saya ke toko buku Gunung Agung. Saya membeli beberapa buku untuk istri dan anak-anak. Selain itu saya beli CD mengenai ESQ. Saya memang tidak pernah melewatkan untuk melihat-lihat buku baru di toko buku di kota yang saya kunjungi.
Kira-kira pukul 16.30 Sore, saya bergegas menuju Plaza Senayan City, cari taksi yang membawa saya menuju ke Stasiun Gambir. Dari Gambir itulah saya biasa naik bus Damri menuju bandara Cengkareng.
Sehabis buka pintu taksi, sopir menyapa, ”mau diantar ke mana pak?”, ”ke Gambir”, jawab saya. ”Bapak sedang tugas di Jakarta?”, tanya Pak sopir kembali. ”Ya”, saya menjawab singkat. Namun sejurus kemudian saya berusaha memberi informasi tambahan mengenai keberadaan saya, karena saya sendiri merasa aneh, lagi kerja kok di Mall. Saya membatin demikian. ”Saya tadi ”membunuh waktu” Pak Sopir”. Pak Sopir langsung menjawab, ”Pak, waktu kok dibunuh toh?, eman pak, saya saja kalau bisa waktu itu ditambah, biar saya lebih punya kesempatan untuk bekerja menambah penghasilan.” Ia pun melanjutkan,”Pak kalau bisa waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya, jangan disia-siakan”.
Saya tertegun saja mendengar Sopir taksi berkata seperti itu. Saya jelaskan bahwa keberadaan saya di Mall bukan semata-mata hura-hura atau bersenang-senang. Karena toh, dari pada saya bengong menunggu pesawat saya. Mending cari kegiatan yang bermanfaat, ke toko buku dan cari alat belajar untuk anak-anak saya. Begitu saya sampaikan pada pak sopir.
Justru saya berangkat pagi-pagi dan langsung pulang sore untuk efisiensi waktu. Saya memang tidak pernah lama-lama kalau bepergian. Pada dasarnya saya orangnya selalu kangen rumah. Jadi kalau urusan beres pasti langsung pulang saja.
Diawali oleh kata membunuh waktu tadi, PakSopir menceritakan betapa beban berat hidupnya. Rumah masih ngontrak, bahkan katanya pada pagi hari itu mereka diancam oleh pemilik kontrakan untuk segera mengosongkan rumahnya. Untuk jaminan pengosongan, tabung gas untuk masyarakat miskin yang menjadi hak bapak sopir taksi tadi pun diambil (disita) pemilik rumah. Belum lagi, katanya ia habis sakit sehingga kulkas dan televisi pun terjual untuk biaya pengobatan. Dengan menghiba, dalam curhatnya bapak itu menceritakan bahwa pagi itu ia tidak tahu apakah di rumah anak istrinya sudah makan apa belum. Karena tabung gasnya disita.
Dari dialog dengan Pak Sopir itu mengenai waktu. Saya kemudian membayangkan bahwa betapa berharganya waktu bagi manusia.
Pentingnya Waktu
Betapa berharganya waktu, sampai-sampai waktu diibaratkan bagai pedang yang menghunus. Siapa yang memanfaatkan waktu dengan baik maka akan mendapat keuntungan dari waktu itu sendiri. Barangsiapa yang melenakannya, maka bersiaplah untuk kehilangan segalanya, karena waktu akan melibas kita.
Siapapun kita, apapun latar belakang kita. Semua butuh waktu. Untuk mempersiapkan keinginannya, untuk mencapai tujuannya, semua orang butuh waktu. Waktu menjadi terasa panjang dalam menunggu, waktu terasa membosankan dalam menanti janji yang tak ditepati, waktu terasa hilang terlewati begitu saja ketika seorang bengong tak karuan. Demikian pula, waktu dapat terasa cepat bagi sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Waktu bisa terasa menegangkan ketika akan menghadapi ujian dan pertanggungjawaban.
Jadi, rasa dalam sebuah waktu akan mengikuti perasaan kita dalam memperlakukannya. Waktu dengan demikian sangat berguna dan berharga. Oleh karenaya, manusia musti memanfaatkan waktu yang berjalan untuk mencapai cita-cita dan keinginannya. Memanaj waktu menjadi penting. Berjalannya usia, dari detik sampai tahun adalah aset yang diberikan oleh Tuhan pada setiap manusia, manfaatkanlah itu, pergunakan sebaik-baiknya untuk mencapai hidup dalam kesejahteraan, ketentraman dalam bingkai ketakwaan.
Bertambahnya usia,bukanlah merupakan bentuk deretan panjang umur yang dengan pongah dibanggakan. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, hendaklah introspeksi. Muhasabah atas seberapa banyak kebaikan yang kita lakukan dan prestasi yang kita raih. Bukannya melupakan diri atas kesalahan dan kehilafan yang telah diperbuat selama ini.
Waktu kosong dan waktu yang belum terjadwal, hendaklah dimanfaatkan dengan baik. Mencari kegiatan positif adalah bentuk utama dari solusi atas tiadanya produktifitas pada suatu waktu yang kita punyai. Dari produktifitas waktu itulah,betapapun sedikitnya waktu, kalau seorang anak manusia memanfaatkan dengan optimal, di kemudian hari, pasti hasil nyata akan dicapai.
Apa yang saya lakukan dalam cerita perjalanan ke Jakarta tersebut di atas adalah upaya saya untuk memanfaatkan waktu. Bukan sama sekali untuk menghamburkan waktu. Menonton film tentu adalah merupakan bagian dari belajar kehidupan. Demikian pula membeli buku, bukanlah suatu aktifitas yang percuma. Itulah sedikit upaya saya yang dengan maksimal dapat berusaha memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, setidak-tidaknya menurut saya pribadi.
Istilah ”membunuh waktu”, bukan sama sekali kata yang harus dimaknai dengan membuang waktu. Tapi itu semata-mata adalah istilah saya dalam memanfaatkan waktu yang ada di depan saya namun belum ada kegiatan pasti. Saya berusaha memanfaatkannya, mengisinya dan mendayagunakannya untuk kepentingan saya dan keluarga. Setidaknya itulah salah satu timing di mana saya memanfaatkan waktu.
Sebagai penghargaan atas pertanyaan menyentil Pak Sopir tadi, saya hadiahkan untuknya ongkos argo taksi 3 kali lipat lebih banyak dari tarif yang ada. Hitung-hitung shodaqoh untuk faqir miskin. Bagaimana dengan anda? Saya yakin anda lebih baik lagi dalam ”membunuh waktu” yang ada!.

Rabu, 07 Januari 2009

Majelis Dzikir Al Khidmah yang Luar Biasa!


Oleh: M. Afif Hasbullah

    Tiga hari lalu (Minggu, 4 Januari 2009) digelar majelis dzikir di Gresik (depan wisma A Yani dan sepanjang Jalan Veteran) dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan sekaligus Haul Akbar Sulthonul Awliya’ Syekh Abdul Qadir Jaelani sekaligus pula memperingati Haul Maulana Malik Ibrahim, Kanjeng Sunan Giri dan juga Al Arif Billah Kyai Haji Utsman Al Ishaqi. Perhelatan dzikir itu diselenggarakan oleh Jamiyyah At Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah al Oestmaniyyah yang berpusat di Pondok Pesantren Al Fitrah Kedinding Surabaya.
    Luar biasa, walaupun saya sudah sering mengikuti acara-acara majelis dzikir al khidmah di berbagai kota, namun, saya tetap terbawa pesona lautan manusia yang berjumlah ribuan, bahkan puluhan ribu, hingga ratusan ribu. Pesona manusia-manusia berdzikir dengan khusyuk, seksama dan tertib itu membuat bulu kuduk saya merinding. Kelantunan irama dzikir di bawah pimpinan kyai itu sungguh membuat suasana religius tidak hanya terasa dalam kulit saja (merinding), namun juga menghujam menyentuh nurani. Tidak cukup sampai di situ, air mata tak terasa meleleh setetes demi setetes dari kelopak mata yang dibanjiri air mata. Sungguh, suasana bathiniah mana yang tidak tergugah dengan lantunan do’a dan munajat yang sungguh sangat mengena, apalagi rangkaian doa yang diucapkan dengan sedemikian lembut dengan tutur rangkaian kata yang bersyair untuk mengungkapkan kepada Sang Pencipta betapa dosa dan kehilafan masing-masing diri dihadapkan pada harapan akan pertolonganNya untuk menghapus dosa-dosa itu dan pula, mengharap dengan tulus ikhlas kepada perbaikan ketakwaan dan kebahagiaan dunia dan akherat.
    Maka tak heran, ribuan orang menangis harus, tersedu-sedu, meraung tangis dalam muhasabah dirinya masing-masing. Bahkan, ada yang sampai kehilangan kesadaran dalam dzikirnya (ekstase). Subhanallah. Bahkan, sering pula di jumpai dalam majelis dzikir seperti itu ada yang meninggal dunia, sungguh itu merupakan pertanda khusnul khotimah.
Mereka yang hadir meliputi semua kalangan, habaib, kyai, alim ulama, pejabat, guru, dosen, pegawai, pedagang, petani, mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, bahkan para pekerja kasar atau buruh menjadi peserta kegiatan itu. Mereka menjadi satu kesatuan dalam kebutuhan spiritual yang menjadi hak semuanya, mereka menunjukkan bahwa dalam dalam spirit keagamaan yang sama mereka menjadi sama. Yang kaya atau yang miskin sama duduk bersila di hamparan alas karpet (sering berupa terpal dan plastic) yang disediakan panitia. Bahkan tidak cukup, sampai harus bawa alas masing-masing dan mereka berbagi alas satu sama lain.
    Ketidakadaan pangkat dalam potret majelis dzikir juga terlihat dari betapa sedemikian dapat berbaginya antar mereka ketika makan bersama usai acara. Sebagaimana biasa, para jamaah makan dalam satu nampan (baki, lengser) untuk 4 sampai 5 jamaah. Suatu suasana yang guyub tanpa rasa gengsi yang nampak sedikitpun, antara mereka yang pejabat dengan rakyat, antara mereka yang kyai dengan santri. Luar biasa. Makanan itu, dihabiskan, tidak boleh tersisa, dan biasanya menurut pengalaman saya makan ala pesantren seperti itu, dimakan tiga orang kenyang, pun demikian kenyang bila dimakan 6 orang. Barangkali itulah makanan berkah.
    Hal seperti itulah sesungguhnya potret makna kemusliman dan kemukminan kita. Muslim satu dengan lainnya adalah saudara. Mukmin satu dengan yang lain adalah saudara. Ya, Innamal mu’minuna ikhwah. Sesama muslim tidak boleh saling membenci, tidak boleh saling menggunjing, tidak boleh saling menjatuhkan, tidak boleh saling memfitnah dan sebagainya. Demikian pula antar muslim sudah seharusnya saling mencinta, saling berprasangka baik, saling mendoakan, saling membantu kala sulit dan senang, salaing berbagi, dan sebagainya. Namun sayang, kerap ditemui contoh kurang baik di lapangan kehidupan, bila seorang yang mengaku muslim berprilaku negatif pada muslim lainnya. Naudzubillah.
Pesona dan Kharisma Sang Mursyid
    Sosok Romo Kyai Haji Achmad Asrori al Ishaqi adalah sentral dari majelis dzikir ini. Karena beliaulah pemimpin tertinggi atau mursyiduttariqah, yakni guru dari ajaran thariqah tersebut yang mendapat mandat dari guru-guru mursyid sebelumnya. Ketawadlu’an para murid dan jamaah majlis dzikir bukan hanya pada sosok beliau sebagai mursyid mereka, namun kepribadian dan keilmuan beliau lah yang lebih mendorong para murid dan jamaah terkesima akan pesona pribadi beliau. Wajahnya sejuk, parasnya tampan, hidung mancung, kulit putih bersih, suaranya lembut menyentuh, tutur katanya santun tak menyinggung, sorot matanya teduh, cara berjalannya berwibawa, tangannya lembut, baunya badannya wangi, dan setiap yang diceramahkan religius sekaligus ilmiah. Beliau suka menjelaskan materi ceramahnya dengan melihat audiennya siapa. Menjelaskan materi secara sistematis, kronologis, metodologis dan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dicerna oleh semua yang hadir.
    Pengalaman beliau memberi ceramah di Kampus Unisda Lamongan, beliau bertanya, ”pakai bahasa jawa apa Indonesia?”, jamaah menjawab ”bahasa jawa”, karena memang para hadirin mayoritas orang-orang desa. Beliau jawab, ”kalau saya pakai bahasa jawa, kan kita ini ada di dalam Universitas, biasanya kalau di universitas itu mestinya bahasa Indonesia. Namun, kalau saya pakai bahasa Indonesia, hadirin kebanyakan lebih menyukai bahasa jawa. Sehingga, bagaimana kalau saya pakai bahasa madura saja? (sambil tertawa kecil)”. Kontan jamaah diam, bingung mau jawab apa. Tiba-tiba beliau berkata ”Ya, saya pakai bahasa jawa saja ya biar lebih luwes”.
Kyai Asrori dan Para Profesor
    Mungkin karena pesona tersebut itulah, banyak rektor dan pimpinan perguruan tinggi, berikut profesornya berbondong bondong mengikuti jamaah beliau, baik hanya sebatas muhibbin (pecinta majelis beliau) maupun juga muridin (mereka yang sudah dibaiat oleh kyai menjadi murid). Tak kurang, Rektor ITS, Rektor UM Malang, Rektor UIN Malang, Rektor Unibraw Malang, Rektor UMM Malang, Rektor Unissula Semarang, dan juga saya Rektor Unisda Lamongan.
    Beliau kerap menyelenggarakan acara dikampus-kampus. Jamaah al Khidmah dapat diterima baik di banyak kampus. Hal ini dapat berfungsi positif dalam rangka membentengi kampus dan keilmuan didalamnya dengan nilai-nilai spiritual, juga, tentu saja bermakna dakwah, yakni sebagai counter terhadap pandangan miring kalangan luar yang tidak mempunyai dasar argumentasi cukup dengan mengatakan bahwa kegiatan thariqah dan majlis dzikir sebagai bid’ah. Justru yang ada saat ini adalah al Khidmah menunjukkan dapat diterima oleh kalangan kampus.
    Bahkan, syukur alhamdulillah. Unisda sendiri merupakan kampus pertama yang dikunjungi Kyai dan jamaah beliau. Sampai saat ini, sudah lima kali dalam lima tahun diselenggarakan acara serupa di Unisda. 
    Bukan hanya orang kampus. Kalangan pejabat terpelajar pun banyak sekali menyukai acara yang diselenggarakan oleh al Khidmah ini. Tak kurang Prof Dr Jimly Asshiddieqy semasa menjadi ketua Mahkamah Konstitusi juga menyempatkan hadir. Demikian pula para menteri-menteri tidak luput dari menghadiri acara majelis dzikir tersebut.
Kegiatan yang Meng-Internasional   
    Gerakan majlis dzikir ini luar biasa. Karena ditingkat kecamatan maupun desa ada kegiatan majelis dzikir mingguan, di tingkat kabupaten juga terjadwal, ditingkat nasional bahkan internasional juga ada. Acara Haul Akbar yang biasa dilaksanakan menjelang bulan Ramadlan bahkan tidak kurang dari 200.000 jamaah. Ini berdasarkan laporan panitia haul akbar 2008 yang menyediakan nasi bungkus sejumlah itu. Hal itu tidak mengherankan, karena sebaran jamaah ini meliputi seluruh Indonesia, bahkan ada yang di luar negeri seperti Singapura, Brunei, Malaysia bahkan Timur Tengah.
    Satu hal lagi, para jamaah senantiasa tertib dan membawa kedamaian ketika menghadiri atau menjelang bubarnya jamaah dari majelis dzikir. Ini tidak seperti penonton bola yang seringkali ribut, atau mereka yang berunjuk rasa yang seringkali bikin onar. Biaya pun demikian, dengan jumlah jamaah yang ribuan itu ternyata al Khidmah tidak pernah mempunyai kendala berarti dari jamaah. Subhanallah.


Kamis, 01 Januari 2009

Meneropong 2009: Memaknai Hidup untuk Kemafaatan Orang Lain


Oleh: M. Afif Hasbullah

    Syukur Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan nikmat padaku hingga hari ini 1 Januari 2009. Subhanallah, aku masih melihat indahnya matahari pagi yang bersinar menembus dedaunan hijau yang semakin nampak berkilau dengan embun yang masih menetes. Kicauan burung yang masih terdengar di tengah hiruk pikuknya pembangunan yang menggusur rumah-rumah burung itu, namun entah darimana datangnya, burung-burung itu masih berkicau menyebut asma Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Seolah mengingatkan diriku untuk senantiasa berdzikir menyebut asmaNya Yang Maha Agung.

    Tahun baru 2009, banyak harapan yang kugantungkan di Tahun 2009 ini. Serangkaian rencana yang aku renungkan dari proses muhasabah semalam. Yakni melalui refleksi diri atas apa yang aku lakukan selama setahun sebelumnya atau tahun-tahun sebelumnya lagi. Sungguh kritik diri yang amat berharga untuk menapak perbaikan di hari esok yang lebih cerah. Astaghfirullahaladzim, banyak kesalahan dan kekeliruan yang aku perbuat selama ini, banyak khilaf dan dosa yang aku lakukan, banyak kesombongan dan kedloliman yang aku praktekkan di muka bumi Allah ini. Semua sengaja dan tidak sengaja mewujud dalam tingkah polahku, demi mewujudkan dorongan nafsu yang senantiasa mengajak anak manusia menjauhi hati nurani.
    Namun demikian, belum lagi perbuatan tercela baik yang dlohir maupun yang bathin itu termintakan maaf dan terloloskan maafku dihadapanNya, amal ibadahku sungguh sangat sedikit, itupun belum tentu diterima oleh Yang Maha Kuasa. Bukan diriku minta sorga, bukan diriku ingin mendapat pahala. Atas dasar apa sehingga aku demikian percaya diri dan pantas meminta sesuatu yang amat mulia dari Dzat Yang Agung. Tak layak diriku meminta Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu, pada saat diriku tidak pernah menyenangkanNya.
    Oh Tuhanku, Engkau demikian Pemurah, memberi rizki pada hamba baik ketika hamba mendekat atau menjauh daripadaMU. Ingatku maupun lupaku, bagiMu sama. Setiap mahluq engkau beri rizqi, berupa sandang, pangan, dan papan. Maupun rizqi lain yang berupa waktu, kesempatan, kesehatan, teman, keluarga yang baik dan rizqi-rizqi lain yang aku pasti takkan bisa menyebutkan semuanya. Karena nikmatMu berbilang lebih daripada tetesan air di samudera.
    Tahun 2009 semoga membawa hikmah. Pasti atas segala sesuatu yang terjadi dan menampak di muka bumi, mengandung hikmah. Baik itu yang mewujud dalam kesenangan maupun yang mewujud pada suatu kesedihan dan ketakutan. Semua ada dalam waktu yang berputar, berjalan mengiringi langkah anak manusia di muka bumi. Tinggallah diriku, apakah aku mampu menyelami dan menyentuh hikmah itu untuk diambil pelajaran dan pengetahuan sebagai kebaikan kehidupan saat ini dan mendatang. Hikmah tidak hanya melekat pada sesuatu yang aku sukai, hikmah juga kerap sekali muncul dalam kepedihan, kesengsaraan, tantangan, bahkan bahaya dan musibah.
    Aku berharap banyak menemukan hikmah-hikmah yang tersimpan. Mencoba untuk lebih sensitive mengamati karakter hikmah yang tersembunyi maupun yang nampak. Dengan sensitifitas tinggi atas hikmah dibalik perbuatan tersebut aku berharap lebih bisa berprestasi dan mensyukuri nikmatNya.
    Syukur adalah tanda bahwa aku dapat menerima dengan baik karunia yang di berikanNya, membagi karunia itu untuk orang lain, menyebar kebahagiaan buat makhluq di muka bumi, serta mengembalikan semua karunia kepadaNya sesuai ajaran dalam al Qur’an dan suri tauladan Nabi Nya Muhammad SAW. Karena sesungguhnya semua adalah milik Allah dan harus dikembalikan padaNya. Atas kesuksesan dan keberhasilan yang mungkin akan kuraih, semua terkandung hak manusia lain, didalamnya terkandung hak makhluq Allah atas rizki maupun prestasi yang kuraih.
    Aku percaya, Allah akan senantiasa melimpahkan rizqiNya untuk hamba-hambaNya yang amanah. Rizqi ibarat kepercayaan Allah pada hamba, maka manakala hambaNya amanah akan semakin di percayalah ia. Namun apabila hamba lena, maka semua akan diambil oleh Sang Pemilik, bahkan adzabnya pasti teramat pedih.
    Kucoba lebih memaknai hidup di 2009 ini dengan lebih mengoptimalkan keberpihakanku pada makna hidup yang sesungguhnya, yakni hidup akan bermakna dan menemukan manfaat manakala bermanfaat bagi orang lain. Aku masih ingat ungkapan, memberilah dan senantiasa memberi, jangan mengharap-harap pemberian, karena ketika engkau tidak diberi maka hatimu akan terluka. Ketulusan dan keihklasan dalam memberi menjadi kata kunci kelepasan dorongan nurani untuk selalu berbuat kebaikan pada orang lain.
    Sungguh, bahwa apa yang aku perbuat dengan ketulus-ikhlasan yang disertai dengan kesungguhan, maka pasti, pasti Allah akan senantiasa menjamin untuk melapangkan jalan yang lebih menyenangkan di hari esok.
    Aku ingin mencontoh, Nabi Muhammad yang senantiasa memberi tanpa mementingkan diri sendiri, harta, jiwa dan raga, bahkan doanya dimunjahkannya pada Allah untuk kepentingan dan kebikan ummatnya. Demikian pula, Hewlett Packard seorang milyuner yang berhasil dibidang komputer yang kemudian memilih hidup sederhana dan memberikan kekayaannya untuk dunia sosial. Juga, Disneyland yang bersemboyan “memberi kebahagiaan bagi masyarakat dunia” yang ternyata di dalamnya berusaha memberi layanan terbaik bagi anak-anak dunia, dan penghasilannya banyak didedikasi untuk sosial kemasyarakatan. Masih banyak lagi para tokoh yang memilih hidup sebaliknya dengan kesederhanaan. Bagi mereka hidupnya ternyata nikmat dan menyenangkan, mereka bersyukur atas apa yang dilakukannya dengan sepenuh hati itu. Melayani dan melayani. Mungkin bagi orang yang tidak tahu bersyukur, melihat kehidupan para tokoh itu aku yakin amatlah menyakitkan dan menyengsarakan diri. Namun, sekali lagi bagi mereka tidak ada kata sakit dan sengsara, karena semua justru merupakan kenikmatan bathin tiada tara untuk mengabdi pada orang lain dan kepentingan yang lebih besar.
    Aku inginkan diriku, menjadi seperti mereka. Orang-orang yang berdedikasi tinggi, memberikan lebih banyak hidup dan kehidupannya untuk orang lain. Semoga diriku bisa melakukan semua itu, dengan memohon ridlo Allah semoga catatan yang tergores dalam secarik kertas ini merupakan doa untukku memohon kepadaNya. Amin.  

Selasa, 30 Desember 2008

New Year Notes: Merefresh Diri Menyambut Tahun Baru


Oleh: M. Afif Hasbullah 
Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, sekaligus mengaturnya dengan hukum-hukum yang telah diciptkanNya. Agar dapat berjalan dengan Sunnatullah, aman, tentram, damai dan sejahtera.Allah jua yang memperjalankan kehidupan dunia dengan waktu sebagai penanda. Waktu yang kemudian berwujud dalam second, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun serta abad. Semua tentu mempunyai hikmah yang harus senantiasa digali dan dihayati oleh ummat manusia.
Seiring perjalanan manusia dimuka bumi yang dihamparkan Allah dalam edaran waktu yang berjalan dan terus berjalan mengiringi langkah anak-anak manusia, muncul pertanyaaan sudahkah waktu termanfaatkan dengan baik, sudahkah kita melakukan muhasabah atau evaluasi atas waktu dan perbuatan yang kita lakukan, sudahkah waktu yang lewat itu membawa berkah kebaikan atas apa yang kita lakukan di dalamnya.
Salah satu hal penting yang membedakan orang sukses dengan yang tidak sukses adalah bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik. Allah SWT memberi bekal terhadap setiap manusia di muka bumi dengan modal yang sama. 24 jam sehari semalam, 7 hari dalam seminggu, 12 bulan dalam satu tahun. Namun ternyata, hasil atas modal yang diberikan Allah pada tiap manusia itu hasilnya tidak sama. Tidak sama memuaskan, tidak sama prestasinya, dan tidak sama kualitas akhir kehidupannya, yakni khusnul khotimah kah ia atau bahkan su’ul khotimah, naudzubillah min dzalik.
Bahwa kadar keberhasilan tiap orang tentulah tidak sama itu patut untuk disepakati. Misalnya ada orang yang kaya dengan total harta 10 milyar, ada orang yang hidup berkecukupan dengan gaji bulanan 1 juta, bahkan ada juga yang masih mencari sesuap nasi pada tiap hari untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Ada orang yang dengan penghasilan hidupnya lantas bersyukur kepada Dzat Pemberi Hidup. Namun banyak pula mereka yang berkelebihan sekalipun tidak pernah merasa puas atas apa yang didapatkan selama ini, sehingga sampai tidak mengingat akan hak orang yang tidak berpunya untuk disantuni oleh dirinya.
Ada pula orang yang karirnya cepat, melesat kilat. Ada juga yang harus meniti karir dari jabatan terbawah, menapak satu demi satu tangga karir yang harus dilalui. Semua ini, tentu disamping pada satu sisi adalah bagaimana mengatur menejemen waktu yang ada dengan kegigihan dan kesungguhan, juga, yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan takdir yang sudah di tentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, selama kaum itu tidak berusaha merubah dirinya sendiri. Artinya, tangan Tuhan akan bergerak sinergis dengan usaha yang kita lakukan. Tidaklah mungkin Tuhan akan memberi sesuap nasi kepada anak manusia bila ia tidak mau bekerja dan malas. Tidaklah mungkin Tuhan memberikan kelulusan ujian pada anak manusia, bila ia tidak mau belajar. Walaupun semua bisa dilakukan oleh Tuhan dengan Kun fayakun. Jadilah (sesuatu) maka Jadi (lah sesuatu itu). Namun, dengan dasar hukum-hukum sunnatullah, semua yang terjadi di alam akan tunduk pada hukum-hukum Allah. Demikian pula Allah, sebagai pemilik hukum-hukum itu, tentu akan memelihara hukum-hukumnya dengan baik. Bila ada yang melanggar hukumnya, maka atas resikonya sendirilah akibat atas perbuatan anak manusia itu.
Tuhan sudah banyak sekali memberi kita. Bahkan atas apa-apa yang tidak pernah kita minta, bila itu kita butuhkan Allah akan memeberinya. Dia (Allah) selalu melihat dan mendengar doa kita, dan selalu memeberi apa yang kita butuhkan, bukan pada apa yang kita minta.
Demikianlah, posisi kemurahan Allah atas manusia yang saya berusaha deskripsikan. Dengan itu, apakah sudah kita bersyukur atas waktu yang diberikan sedemikian banyak pada kita, berupa kesempatan dan kelapangan. Jiwa raga maupun harta. Terlebih waktu, yang sering dilupakan anak-anak manusia. Waktu adalah pedang, siapa yang melenakannya akan ditebasnya. Waktu lebih mahal dari emas dan permata. Siapa yang dapat memanfaatkan waktu dengan baik niscaya keberhasilan ada padanya.
Nabi Muhammad pernah bersabda: "Jagalah lima perkara sebelum datang yang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu senggangmu sebelum datang waktu sempitmu, masa hidupmu sebelum datang waktu kematianmu." (HR. Bukhori). Hadits Nabi ini menjadi pelejaran berharga untuk tiap ummat manusia agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan biarkan waktu untuk bermalasan, jangan biarkan ia terbuang, jangan biarkan waktu berlalu tanpa manfaat yang dapat kita petik daripadanya. Sungguh rugi dan nestapa orang yang melenakan waktu yang berjalan tanpa arti, Nabi juga pernah bersabda, "Ada dua ni'mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat tersebut: yaitu nikmat sehat dan waktu kosong." (HR. al-Hakim yang telah dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitab Al-Jami').
Tahun baru dan Momentum Penyadaran diri
Ya, detik-detik yang berlalu dan hari yang kemudian menjadi tahun yang segera berganti. Haruslah berarti, haruslah bermakna, haruslah disadari dan harus pula menghasilkan penyegaran diri untuk semakin semangat dalam menjalani hidup dan kehidupan dengan perilaku untuk berprestasi dan berprestasi. Tanpa henti dan tanpa usai sampai ajal menjemput kita.
Momentum ini harus ditangkap. Kita tidak boleh membiarkan diri kita liar. Tidak boleh pula apa yang kita lakukan hari ini lepas konteks begitu saja dengan waktu. Ya, Tahun ini segera berganti. Janganlah sia-siakan untuk berkontemplasi dalam rangka mendapatkan makna dan semangat hidup baru.
Bagaimana kalau yang dicari (makna) itu tidak ketemu? Carilah itu. Karena Hikmah Allah itu luas, luas seluas dunia dengan segala isinya dan fenomena di dalamnya. Allah menciptakan Bumi dan segala isinya ini adalah untuk kebaikan manusia. Maka akan tidak mungkin manusia akan menemukan kemadlorotan di dalamnya (bumi), manakala manusia itu sendiri tidak melakukan perbuatan buruk yang menyimpang dari fitroh Sunnatullah. Adanya bencana, adanya musibah, adanya peperangan, semua dipicu oleh ulah perbuatan tangan-tangan kotor manusia. Tuhan tidak pernah menginginkan ciptaanNya ini rusak, bahkan menghasilkan ketersiksaan buat ummat manusia. Tuhan Maha Baik maka atas apa yang diciptakanNya pastilah juga mengandung kebaikan. Ingatlah firman Allah: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar rum:41).
Oleh karenanya, dalam momentum tahun baru seperti ini. Apalagi dengan dua tahun baru yang datang beriringan, mestinya dan sudah pada tempatnya penyadaran itu harus berlipatganda. Marilah melakukan instrospeksi sedalam dan sekhusyuk mungkin dalam rangka menata hari esok yang lebih baik dengan kualitas hidup yang meningkat, baik duniawi kita maupun ukhrowi kita. Bukankah orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan hari esok lebih baik dari hari ini?. Tidak ada alasan lagi, hidup yang bermanfaat adalah hidup yang dilalui dengan perbaikan kualitas kehidupan itu sendiri.
Kemudian, marilah mencari makna hidup itu dalam posisi diri kita masing-masing. Kualitas pada satu orang mungkin standarnya akan berbeda dengan orang lain. Tidak bisa semua orang sama kaya dan sama prestasinya. Semua kita dapat dan kita belanjakan adalah menurut kadar kedudukan pada masing-masing orang, yang itu sebagaian diantaranya adalah ditentukan oleh diri masing-masing orang.
Pertanyaan Akhir Tahun
Beberapa Muhasabah yang dapat kita lakukan terhadap evaluasi keberadaan kita dalam menghabiskan waktu antara lain adalah dengan menayakan pada hati nurani kita tentang bebeberapa hal:
1. Berapa banyak waktu kosong yang terbuang sia-sia dalam satu tahun ini?
2. Berapa banyak waktu yang dapat kita manfaatkan untuk aktifitas positif yakni menguntungkan diri dan orang lain?
3. Berapa banyak waktu yang kita lakukan untuk perbuatan yang negatif yakni merugikan diri sendiri maupun orang lain?
4. Berapa banyak perbuatan yang kita lakukan dilandasi egoisme kepentingan diri sendiri dan golongan?
5. Berapa banyak perbuatan yang sungguh-sungguh demi kebaikan diri dan orang lain atau masyarakat?
6. Pernahkan bersyukur dan bertafakkur dalam setiap hari, untuk merasakan hadirnya waktu dan bagaimana kita memanfaatkannya?
7. Pernahkah merasakan bahwa kehadiran waktu amat membosankan sehingga berakibat ketersiksaaan?
8. Berapa banyak waktu untuk duniawi?
9. Berapa banyak waktu untuk ukhrowi?
Dan mungkin masih banyak lagi perenungan-perenungan waktu yang dapat kita lakukan dengan pengembangan pribadi kita dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga, orang tua, anak, saudara, murid, guru, petani, majikan, buruh, pejabat, pegawai, penguasaha, dan banyak profesi dan kesibukan lainnya. Tidak menutup kemungkinan pula, sisi budaya sebagai orang jawa, sunda, madura, batak dan suku-suku lain yang punya tradisi khas yang kemudian menuntut suatu tanggungjawab atas posisi kebermanfaatan seseorang sebagai manusia dalam konteks budaya setempat.
Namun pasti apa yang dikatakan Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain.” (Al Hadits). Demikian pula firman Allah, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa….” (QS. Al-Hujuraat (49): 13). Juga Sabda Nabi, ”Sebaik baik manusia ialah orang yang panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya.”
Semoga bermanfaat, wallahu a’lamu.



Rabu, 26 November 2008

Sebuah Ajakan Berhemat dalam Konsumsi Energi

Oleh: M. Afif Hasbullah
Pendahuluan
Allah SWT menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya adalah untuk didayagunakan sebaik-baiknya demi kemakmuran dunia, dikelola menurut hukumNya, dan hendaknya mengacu pada ketentuanNya dalam al Qur’an dan as Sunnah. Manusia sebagai salah satu penghuni bumi, diberikan mandat oleh Allah untuk mengurusi dan mengelola isi alam semesta ini dengan sebaik-baiknya sebagai khalifatullah di muka bumi.
Ciptaan Allah beserta segala isinya itu dilengkapi dengan manual prosedur (hukum-hukum Allah) agar supaya dapat didayagunakan semaksimal mungkin, dimanfaatkan sedemikian rupa sesuai peruntukannya, serta dapat berumur panjang sehingga maslahatnya lebih optimal. Namun apabila manual prosedur itu tidak dipakai atau dikesampingkan, maka tentu saja sistem alam semesta menjadi kacau, tidak terjadi keseimbangan sistem dan ujung-ujungnya adalah kerusakan alam semesta. Firman Allah menyatakan: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar rum:41).
Di antara isi dunia yang diciptakan Allah itu adalah sumber daya energi yang terdiri dari bermacam-macam bentuk yakni tambang minyak, batubara, gas alam, kekuatan aliran air, kekuatan gelombang laut, kekuatan energi surya dan sebagainya. Yang kesemuanya itu dapat diubah bentuknya menjadi energi yang menggerakkan mesin-mesin dan sarana produksi serta sarana transportasi ummat manusia.
Aset sumber daya yang dititipkan Allah kepada manusia itu ada yang bisa habis (tidak dapat diperbarui) ada pula yang tidak dapat habis (dapat diperbarui). Oleh karena itu manusia harus pandai-pandai memanfaatkannya, agar optimal dan bertahan lama. Perlu diwaspadai bersama, di era mutakhir ini sudah mulai terjadi gejala-gejala alam yang tidak biasa semacam perubahan iklim, baik itu terwujud dalam badai besar, curah hujan yang tidak stabil, pemanasan global dan sebagainya. Belum lagi, saat kita dihadapkan pada krisis energi, yang ditandai dengan semakin menipisnya cadangan minyak, harganya yang tinggi padahal energi lain yang diharapkan menggantikan minyak belum ditemukan atau masih belum dapat diproduksi massal.
Oleh karena itu, dalam pemanfaatan energi saat ini dan di masa datang ummat manusia harus dapat memperlakukan alam dengan sebaik-baiknya, mengambil secukupnya, memperbarui sebisanya, demi kelestarian ekologis dalam sistem peri kehidupan dunia untuk anak cucu nanti.
Konsumsi dan Pemanfaatan Energi sebagai Bentuk Konsumsi
Pemakaian atau penggunaan manfaat dari barang dan jasa merupakan kegiatan konsumsi. Sehingga konsumsi merupakan tujuan yang penting dari produksi
, tetapi tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang. Islam adalah agama komprehensif yang ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan, baik pengaturan tingkah laku manusia, maupun aspek moral dan etika. Islam mengatur sedemikian detil hal-hal kecil, semacam halal-haram, najis-suci dan sebagainya. Sehingga hal ini yang membedakan kesempurnaan Islam dibanding sistem kemasyarakatan manapun, baik modern atau lama, termasuk dalam hal ini konsumsi.
Konsumsi tentu tidak hanya berkaitan dengan makanan, karena konsumsi terkait juga dengan pemanfaatan barang dan jasa. Oleh karenanya pemanfaatan energi untuk memenuhi kebutuhan manusia juga merupakan bentuk konsumsi itu sendiri.
Hemat Energi, Lingkungan Hidup dan Kemaslahatan Hidup
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kekayaan yang luar biasa. Di antara kekayaan itu adalah, hamparan tanah sawah dan perkebunan, sungai dan lautan beserta isinya, gunung-gunung yang masih aktif, pusat-pusat tambang perut bumi, potensi hutan yang amat besar, dan didukung oleh kuantitas sumberdaya manusia yang besar. Semua adalah rahmat dan karunia Allah pada bangsa Indonesia untuk didayagunakan sebesar-besar kemakmuran rakyatnya.
Eksploitasi terhadap tambang, hutan dan sumberdaya air yang sedemikian luas, akan sangat mengkhawatirkan manakala tidak diimbangi dengan pengelolaan yang sesuai dengan asas kemanfaatan seluruh rakyat dan asas pelestarian lingkungan hidup.
Melalui pemanfaatan SDA yang cerdas dan berwawasan lingkungan, diharapkan dapat mencapai kemaslahatan hidup yang sesungguhnya. Yakni suatu kehidupan masyarakat yang adil makmur dan sejahtera. Allah SWT berfirman: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil'alamiin" (QS. 21 : 107). Pandangan hidup ini mencerminkan pandangan yang holistis terhadap kehidupan kita, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan tempat hidupnya. Sekaligus manusia merupakan pemegang mandat pemakmur bumi.
Namun manusia pula sebagai pembuat kekacauan bumi, sebagai akibat perbuatan nafsu rakus dan boros anak manusia, yang sebenarnya oleh Allah telah diingatkan dalam firmanNya: "Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah membuat kerusakan di muka bumi", mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." (QS. 2 : 11).
Keingkaran manusia tersebut menimbulkan bencana alam dan kerusakan di bumi sebagaimana firmanNya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". Katakanlah : "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (QS. 30 : 41-42).
Tanda-tanda kebenaran firman Allah telah dapat dibuktikan dalam fakta banyaknya terjadi bencana alam, kekeringan, banjir, tanah longsor, air yang tercemar, bahan bakar yang menipis dan lain-lain.
Oleh karenanya manusia sudah seharusnya kembali instrospeksi, konsolidasi, dan menata kembali budaya yang memperkosa alam dengan pemborosan SDA menjadi budaya yang dianjurkan oleh sang pembuat alam semesta beserta manual prosedurNya. Termasuk upaya sederhana yang berdampak besar yakni berhemat dalam mengkonsumsi apapun termasuk listrik, BBM dan Air. Wallahu A’lamu.

Jumat, 26 September 2008

Meninggal dalam Khusnul Khotimah, Insya Allah..

Oleh: M. Afif Hasbullah

Semalam (Senin, 22 September 2008 M/22 Ramadlan 1429 H) di Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan digelar Majlis Dzikir dan Jamaah Sholat Malam yang diselenggarakan oleh Jamiyyah Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah al Oestmaniyyah bersama Pengurus Daerah Al Khidmah dan Unisda Lamongan. Acara yang diselenggarakan di Halaman kampus tersebut berlangsung penuh khusyuk dan hikmat. Tidak kurang dari 10 ribu orang diperkirakan memadati halaman kampus, bahkan sampai meluber ke jalan raya Airlangga Sukodadi. Berpakaian putih-putih (busana sholat) dan dalam keadaan suci dari hadats, mereka melakukan ibadah shalat isya’ dan tarawih berjamaah, kemudian jeda sejenak dan dilanjutkan dengan pembacaan istighotsah, khotmil qur’an, tahlil, kemudian diakhiri dengan sholat malam yang terdiri dari sholat tashbih dan sholat li qodlo’il hajah.
Dalam untaian pembacaan tahlil, para jamaah melakukan dengan khidmat, bahkan beberapa diantara mereka histeris menjerit dalam ucapan dzikirnya. Menangis tersedu-sedu, haru dalam kekhusyukan yang amat mendalam. Demikian pula, ketika para jamaah memunajatkan permohonan mereka dalam doa yang dipimpin oleh Kyai Ali Syaerozi, mereka menangis mengharap segala dosa mereka diampuni dan dikabulkan segala hajatnya serta berdoa agar semua yang hadir akan mengakhiri hidupnya dengan khusnul khotimah.
Pada akhir acara, mendadak panitia mengumumkan adanya seseorang jamaah yang sakit/tidak sadarkan diri, meminta keluarga atau tetangga yang dekat datang ke panggung menunggui seorang Bapak yang sedang tidak sadar itu. Kerumunan jamaah segera mendekat ke pusat pengumuman. Betul, bahwa sang Bapak tua yang bernama Untung itu tidak dalam keadaan sadar atau terjaga. Seperti halnya sedang istirahat yang tenang. Namun apa yang terjadi dengan potret ketenangan seorang bapaka untung yang seolah sedang istirahat itu tidak terjadi pada istri atau keluarganya yang pada saat itu juga mengikuiti majlis dzikir. Mungkin yang sedang dirasakan oleh istrinya adalah rasa khawatir mengenai apa yang menimpa suaminya, jangan-jangan akan dipanggil oleh Allah SWT. Mungkin demikian yang dirasakan oleh sang Istri.
Jamaah yang lain yang mendampingi bapak yang sedang sakit itu, berusaha untuk memberikan pertolongan pertama, memberi air segar yang barangkali dapat menyadarkan bapak yang seolah istirahat dengan tenang itu. Sembari melafalkan La ilaha illallah Muhammad rasululloh.
Tidak lama kemudian, panitia mengantarkan bapak itu ke rumah sakit untuk diberikan penanganan medis. Namun Bapak itu sudah tidak ada. Telah kembali ke rahmatullah. Ke haribaan ilahi rabbi. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Apa yang terjadi dengan meninggalnya bapak Untung haruslah diikhlaskan, baik oleh keluarga maupun semua muslimin yang beriman, jika takdir ini menimpa siapapun. Bahkan apabila melihat saat, waktu dan tempat meninggalnya. Justru seorang yang beriman mestilah bersyukur dan ikut senang manakala ada saudara muslim yang meninggal dengan cara yang amat mulia.
Akhir hidup yang menyenangkan, adalah akhir hidup yang baik atau khusnul khotimah. Tiada faedah atau keutamaan yang dapat diunduh nanti di akherat atas kehidupan seorang di dunia kecuali meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Semoga kita dihindarkan dari akhir yang buruk dalam hidup kita atau su’ul khotimah.
Menginginkan Khusnul Khotimah
Semua kita tentu menginginkan akhir yang baik. Oleh karena itu, muslim harus memaksimalkan ketakwaan dan amal sholih, membiasakannya menjadi amalan sehari-hari dengan senantiasa mengingat kepada Allah. Beramal sholeh kepada sesama tentu menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan, dalam artian sebesar-besar kemanfaatan hidup untuk sesama.
Selain dari itu, agar supaya mendapat akhir yang baik senantiasa meningkatkan iman dengan selalu berdoa dan bermunajat untuk diakhirkan hidup kita dengan cara yang khusnul khotimah. Seorang yang beriman memang tidak diperbolehkan meminta untuk mati, apalagi bunuh diri untuk menghindari masalah dunia. Namun seorang muslim dan mu’min dianjurkan untuk berdoa hidupnya senantiasa tetap dalam iman, ketakwaan, amal sholeh dan meninggal khusnul khotimah. Dengan membiasakan ibadah mahdloh maupun ghoiru mahdloh yang diperintahkan dalam agama insya Allah akhir hidup kita mempunyai kemungkinan besar diakhiri dengan cara kebiasaan kita selama menjalankan perintah agama itu.
Takdir dijemputnya ajal seseorang oleh Malaikat Izrail tidak ada seorangpun yang mengetahui kecuali Penguasa dan Pemilik Jagat Raya Allah SWT. Namun mati adalah pasti. Ketika ajal telah sampai tidak ada seorangpun makhluq yang dapat menundanya, walaupun sedetik. Demikian pula, bila ada seorang anak manusia yang berkeinginan untuk mati, walaupun sudah sangat dekat sekali dengan pedang yang menghunus, kalau belum saatnya mati, dia tidak akan mati dengan pedang itu. Allah SWT berfirman:
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (AL'ANKABUUT 57).
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya). (YUNUS 49).
Mati adalah suatu qepastian. Sedangqan ahqir dari qematian itulah yang lebih penting. Apaqah aqan meninggal dengan qhusnul qhotimah atau dengan suul qhotimah?. Tentu semua yang beriman menginginqan aqhir yang baiq. Yaqni meninggal dengan cara dan qategori atau pertanda qemuliaan.
Di antara tanda-tanda yang dilihat secara inderawi bahwa seseorang itu mendapat aqhir yang baiq adalah:
1. MENGUCAPKAN KALIMAH SYAHADAT KETIKA WAFAT
Rasulullah bersabda :"barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan "La ilaaha illallah" maka ia dimasukkan kedalam surga" (HR. Hakim)

2. KETIKA WAFAT DAHINYA BERKERINGAT
Ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,"Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya" (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas'ud)

3. WAFAT KETIKA MALAM JUM'AT
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah "Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum'at atau pada malam jum'at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur" (HR. Ahmad)

4. MATI SYAHID DALAM MEDAN PERANG
Mengenai hal ini Allah berfirman:
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman" (Ali Imraan:169-171)
Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak dijumpai diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Rasulullah bersabda:
"Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa'at bagi 70 orang kerabatnya" (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
2. Seorang sahabat Rasulullah berkata: " Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah dikuburan mereka kecuali yang mati syahid? beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang diatas kepalanya sebagai fitnah" (HR. an-Nasai)
CATATAN:
Dapatlah memperoleh mati syahid asalkan permintaannya benar-benar muncul dari lubuk hati dan penuh dengan keikhlasan, kendatipu ia tidak mendapatkan kesempatan mati syahid dalam peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya"(HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi)

5. MATI DALAM PEPERANGAN
Ada dua hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
1. Rasulullah bersabda:"Apa yang kalian katagorikan sebagai orang yang mati syahid diantara kalian? mereka menjawab :Wahai Rasulullah yang kami anggap sebagai orang yang mati syahid adalah siapa sja yang mati terbunuh dijalan Allah. Beliau bersabda:Kalau begitu ummatku yang mati syahid sangatlah sedikit. Para sahabat kembali bertanya:Kalau begitu siapa sajakah dari mereka yang mati syahid wahai Rasulullah? beliau menjawab: Barangsiapa yang terbunuh dijalan Allah, yang mati sedang berjuang dijalan Allah, dan yang mati karena penyakit kolera, yang mati karena penyakit perut (yakni disebabkan penyakit yang menyerang perut seperti busung lapar, diare atau sejenisnya) maka dialah syahid dan orang-orang yang mati tenggelam dialah syahid "(HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi)
2. Rasulullah bersabda: Siapa saja yang keluar dijalan Allah lalu mati atau terbunuh maka ia adalah mati syahid. Atau yang dibanting oleh kuda atau untanya lalu mati atau digigit binatang beracun atau mati diatas ranjangnya dengan kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka ia pun syahid dan baginya surga" (HR. Abu Daud,al-Hakim, dan al-Baihaqi)

6. MATI DISEBABKAN PENYAKIT KOLERA
Tentang ini banyak hadits Rasulullah meriwayatkannya diantaranya sebagai berikut:
1. Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin MAlik berkata:"Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: "Karena terserang penyakit kolera" ia berkata:Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim" (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad)
2. Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;"Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid"(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)

7. MATI KARENA TENGGELAM
8. MATI KARENA TERTIMPA RERUNTUHAN / TANAH LONGSOR
Dalil dari 2 point diatas adalah berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
"Para syuhada itu ada 5: orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan & syahid berperang di jalan Allah"
(HR.Imam Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

9. PEREMPUAN YANG MENINGGAL KARENA MELAHIRKAN
Ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya :
"Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? orang-orang yang ada menjawab:Muslim yang mati terbunuh" beliau bersabda:Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)"
(HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi) menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain dalam Musnad-nya.

10. MATI TERBAKAR
11. MATI KARENA PENYAKIT BUSUNG PERUT
Tentang kedua hal ini banyak sekali riwayat, dan yang paling masyhur adalah dari Jabir bin Atik secara marfu':
"Para Syuhada ada 7: mati terbunuh di jalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, karena busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid, karena terbakar adalah syahid & yang mati karena tertimpa reruntuhan (bangunan / tanah longsor) adalah syahid, serta wanita yang mati pada saat mengandung adalah syahid" (HR. Imam Malik, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu MAjah dan Ahmad)

12. MATI KARENA PENYAKIT TUBERCOLOSIS (TBC)
Ini berdasarakan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
"Mati dijalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid"(HR.Thabrani)

13. MATI KARENA MEMPERTAHANKAN HARTA DARI PERAMPOK
Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut:
1. "Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain; Barang siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh) adalah syahid"
(HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
2. Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata:
"Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku" beliau menjawab: 'jangan engkau berikan' Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? beliau menjawab; Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali,Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? beliau menjawab; ia masuk neraka"(HR. Imam Muslim, an-Nasa'i dan Ahmad)
3. Mukhariq berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata :
"ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku, Beliau bersabda: Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya: bila tetap saja tidak mau berdzikir? Beliau menjawab: mintalah orang di sekitarmu untuk mengatasinya. Orang itu bertanya lagi: Bila tidak saya dapati disekitarku seorangpun? Beliau menjawab: Serahkan & minta tolonglah kepada penguasa. Ia bertanya lagi: Bila penguasa itu jauh tempatnya dariku? Beliau bersabda: berkelahilah dengan membela hartamu hingga kau mati & menjadi mati syahid atau mencegah hartamu dirampas"
(HR. An-Nasa'i, dan Ahmad)

14 & 15 . MATI DALAM MEMBELA AGAMA & JIWA
Dalam hal ini ada dua riwayat hadits sebagai berikut:
1.""Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang matimempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid"(HR. Abu Daud, an-Nasa'i, at-tirmidzi, dan Ahmad)
2. "Barangsiapa mati dalam rangka menuntut haknya maka ia mati syahid"
(HR. An-Nasa'i)

16. MATI DALAM BERJAGA-JAGA (WASPADA) DI JALAN ALLAH
Dalam hal ini ada dua hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasslam :
1."Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur(fitnah kubur)"
(HR. Imam Muslim, an-Nasa'i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad)
2. "setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur"
(HR. ABu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad)

17. ORANG YANG MENINGGAL PADA SAAT MENGERJAKAN AMAL SALEH
Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
"Barangsiapa mengucapkan 'laa ilaaha illallah' dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga" (HR. Ahmad)
Doa yang dapat dimunajatqan qepada Allah SWT untuq mendapat qhusnul qhotimah.
Robbi Hablii hukmaw wa al hiqniy bish shoolihiin
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh” (Q.S. Asy-Syuaraa: 83)
Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa’ika
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan (jadikanlah) sebaik-baik hariku yaitu hari ketika aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat)” (Al Hadits).
Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang mati syahid amin.

Sabtu, 20 September 2008

Gelaran Sholat Malam Versus Konser Musik

Oleh: M. Afif Hasbullah


Tentu kita bertanya, ada apa gerangan dengan judul di atas? Masak memperbandingkan antara sholat dengan tetabuhan. Penulis tidak hendak memperbandingkan antara keduanya. Yang jelas walaupun sholat adalah kegiatan ibadah untuk Allah SWT, dengan syarat yang melakukannya dengan penuh keikhlasan dan keimanan. Namun sholat juga dapat menjadi duniawi tanpa spiritualitas sedikitpun, bila dilakukan dengan penuh riya untuk mendapat pujian, sanjungan atau penghargaan dari orang lain. Demikian pula, konser musik juga bisa menjadi hanya bernilai duniawi yang jauh dari unsur ukhrowi manakala di dalam pelaksanaannya jauh dari upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sholat bisa jadi tidak spiritual. Namun musik bisa spiritual. Tergantung bagaimana niat yang dibangun dan bagaimana bentuk pelaksanaannya. Sudahkah berdasarkan syara’?.


Pertanyaan di atas muncul ketika hendak dilaksanakannya gelaran sholat malam di Kampus Unisda, yang insyaallah dilaksanakan besok senin, 22 September 2008. Juga pertanyaan apakah sholat malam yang diorganisir dan diumumkan sedemikian rupa di koran, spanduk dan media radio justru akan menyebabkan riya’? demikianlah kekhawatiran yang ada.

Sehingga kemudian dibuatlah perbandingan oleh sementara panitia. Lha wong, wayang, dangdutan, orkesan saja dipublikasikan sedemikian rupa. Padahal yang disebut tadi cukup dekat dengan kemaksiatan. Di tempat pertunjukan biasa laki perempuan campur baur. Juga sudah lumrah ada minum-minuman keras.

”Apalagi Sholat malam. Sholat tahajjud kan baik. Masak tidak boleh diiklankan”. Demikian kata sebagian panitia. Panitia lain menyambut, ”dengan diiklankan justru syiar Islam dapat dilakukan secara luas. Sehingga keagungan acara keagamaan akan tercipta. Imej baik pun akan hadir disana”.

Yang jelas, kekhawatiran untuk publikasi acara keagamaan itu banyak ditimbulkan dari menghindari riya’. Namun juga akan kurang elok jika, hanya dengan kekhawatiran riya’ itu ummat Islam tidak terlihat kegiatannya. Menurut pendapat penulis, yang namanya riya’ mungkin-mungkin saja muncul di hati setiap pribadi. Karena riya’ itu sirr. Halus yang kadang timbul dalam kalbu manusia.

Riya’ memang harus dihindari. Tetapi dengan melatih terus menerus. Insyaallah akan hilang. Tentu dengan senantiasa belajar sabar, ikhlas, tuma’ninah serta istiqomah.

Senin, 07 April 2008

Mengenal Matholi'ul Anwar dan Pendirinya



Disunting Kembali oleh M. Afif Hasbullah
Secara hakiki pesantren merupakan lembaga (institusi) yang memiliki banyak fungsi, fungsi dimaksud adalah sebagai lembaga pendidikan, keagamaan, kemasyarakatan, pengkaderan dan dakwah. Melalui fungsi-fungsi tersebut, maka pesantren memiliki posisi strategis dan fungsional bagi agama khususnya dan bangsa pada umumnya.
Pada dataran strategis pesantren mengemban amanat sbagai penjaga dan pengembang nilai-nilai dasar keagamaan sepanjang kesejarahan Islam di Indonesia, di samping itu juga merupakan pengemban autentisitas keilmuan dalam Islam. Pada dataran fungsional, pesantren dapat mengemban dinamika-dinamika sosial masyarakat di sekelilingnya, baik melalui pendidikan formal, non formal maupun aktivitas lain yang intinya mencerdas-akhlaqkan masyarakat. Menunjuk posisi demikian, maka tidak salah jika pesantren sering dikatakan oleh banyak orang sebagai benteng sekaligus gerbang pengembangan masa depan Islam.
Menurut penelitian para ahlul ilmi, pesantren bermula dari pengajian-pengajian rutin kelompok kecil baik yang dilaksanakan di rumah maupun surau. Dari kelompok kecil tersebut, karena memiliki daya tarik yang khas, maka masyarakat yang jauh dari lingkungan pengajian tersebut datang dan menginap di tempat tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan itu, dibangunlah sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan keagamaan tersebut. Untuk itu pengajian demikian pada akhirnya disebut pondok pesantren.
Pesantren Matholi’ul Anwar didirikan pada 18 Januari 1914 oleh Kyai Abdul Wahab. Pada saat itu belum terwujud pesantren sebagaimana pengertian pesantren sekarang yaitu ada kyai, tempat ibadah, asrama santri dan sarana belajar, namun baru berupa pengajian-pengajian rutin yang menggunakan rumah kyai sebagai tempatnya. Kyai Abdul Wahab kembali ke Rahmatullah pada 12 Maret 1925.
Setelah founding father tersebut meninggal dunia, maka pengajian tersebut di lanjutkan oleh putra-putra menantu beliau yaitu Kyai Abdullah, Kyai Rusman dan Kyai Dja’far. Kepengasuhan beliau bertiga tersebut berjalan hingga tahun 1935.
Adapun semenjak 17 Juli 1935 kepengasuhan pesantren digantikan oleh K.H. Soefyan Abdul Wahab, yang ketika itu beliau baru berumur 18 tahun dan sedang giat-giatnya mengenyam ilmu di berbagai pesantren di sekitar kabupaten Lamongan, termasuk di pesantren Langitan. Dalam usia yang masih sangat belia tersebut, beliau mengasuh pesantren sekaligus juga mondar-mandir menimba ilmu kepada beberapa Kyai dengan pengajian sorogan. Hal ini dapat dipahami bahwa tanggung jawab beliau secara pribadi dan sosial sangat besar dan seimbang.
Usia 18 tahun untuk memimpin jama’ah pada era dewasa ini nampaknya terlalu muda. Namun kala itu, kharisma dan kepribadian beliau sebagai putra Kyai memang layak untuk menyandang derajad tersebut, demikian pula tanggung jawab yang sedemikian besar dalam memimpin ummat harus diiringi dengan kemampuan yang baik dalam penguasaan keilmuan maupun kepemimpinan.
Untuk itulah saudara-saudara ipar beliau yang lebih tua dan alim memberikan kepercayaan dan tanggung jawab penerusan dan kepengasuhan pesantren kepada beliau. Sebagai perwujudan tanggung jawab tersebut, beliau menerima amanat dengan niat semata-mata pengabdian dan penghambaan kepada Allah, di samping itu tak henti-hentinya beliau terus meningkatkan belajarnya.
Semangat mencari ilmu seperti yang dipraktekkan Kyai Soefyan sudah sepatutnya ditiru dan diteladani oleh para santri, pelajar, dan ummat, misalnya kebiasaan Kyai Soefyan yang selalu istiqomah muthola’ah kitab-kitab hingga larut malam. Kebiasaan ini masih beliau lakukan hingga sehari menjelang wafat beliau. Beliau juga selalu terbuka sekaligus selektif terhadap arus informasi. Sikap tawazun, tawassuth, dan i’tidal menjadi bagian dari kepribadian beliau. Beliau juga mempunyai kebiasaan membaca buku-buku umum atau aktual berikut berlangganan majalah dan koran yang kala itu bagi lingkungan pesantren yang masih dirasa asing. Tidak mengherankan, dengan kebiasaan demikian menjadikan wawasan beliau sangat maju dan tidak tertinggal oleh arus informasi yang relevan dengan pengembangan keislaman, kemasyarakatan dan kondisi sosial-politik.
Kepribadian dan akhlaq beliau juga patut dijadikan sebagi teladan bagi kita. Beliau selalu menghargai pendapat orang lain, mendengarkan dua kali lebih banyak dari pada berbicara, mengasihi kaum lemah, nada suaranya teduh dan menyejukkan hati bagi orang lain, ketika berceramah tidak menjadikan orang lain tersinggung, mengasihi orang miskin dan menghormati orang kaya. Hal ini nampak dari kebiasaan beliau jika di undang oleh seseorang dalam hari dan jam yang hampir bersamaan, yang satu miskin dan yang lain kaya, maka beliau datang dulu kepada orang miskin tersebut, baru kemudian kepada orang kaya.
Dalam bidang sosial kemasyarakatan dan kepemerintahan, pribadi beliau pantas teladani ummat Islam. Misalnya dalam kesibukan mengajar di madrasah, mengaji di pesantren dan ceramah di tengah-tengah masyarakat, beliau masih menyempatkan menjadi Ketua Tanfidliyah NU Karanggeneng, hingga beliau pernah mewakili Partai NU duduk sebagai anggota DPRD Tingkat II Lamongan. Demikian juga dalam hal pemerintahan, beliau juga pernah menjadi anggota tim P-7 Jawa Timur. Demikian ini didorong oleh motivasi beliau untuk mewujudkan fungsi dan posisi pesantren secara maksimal. Pada saat yang sama, berbagai kesibukan dalam urusan masyarakat dan pemerintah tersebut tidak menjadikan pengurangan perhatian beliau pada pengembangan pesantren dan lembaga-lembaga yang ada di dalamnya.
Semenjak kepengasuhan pesantren dipegang oleh Kyai Soefyan, maka diadakan pengembangan-pengembangan pesantren yang sangat bermakna dan berdampak sampai dewasa ini. Pengembangan dimaksud bukan hanya pengajian level kampung seperti pada masa kepengasuhan sebelumnya, namun pengembangan yang menjadikan suatu bibit pesantren menjadi pesantren yang sesungguhnya. Pada masa beliau inilah telah lengkap unsur kyai, langgar (musholla) dan asrama (pondokan), hal ini terjadi pada 1 Januari 1949. Perkembangan ini tentu tidak terlepas dari ilmu, kharisma dan kepribadian beliau sebagai sosok pengasuh.
Dengan didirikannya pesantren, respon masyarakat sangat positif. Pertumbuhan yang postif itu dapat dilihat, kalau pada awal mula santrinya hanya 3 orang, maka dua tahun berikutnya sudah menjadi 60 orang. Dengan banyaknya murid atau santri tersebut, maka beliau mendirikan sekolah formal, yaitu tepatnya pada tahun 1951. Sekolah yang dibuka tersebut adalah Madrasah Ibtida’iyah. Pendirian madrasah tersebut tidak terlepas dari dorongan dan saran para Kyai dan pejabat kabupaten Lamongan, misalnya dari K.H. Mustaqim dan Bapak Susminto, seorang Hakim di Lamongan kala itu.
Pengembangan demi pengembangan semakin pesat, dan mendapat respon positif dari masyarakat, sehingga santrinya semakin pesat. Untuk itu perlu disediakan sarana belajar yang memadai pula, bukan hanya pendidikan tingkat dasar (MI), namun juga pendidikan formal yang lebih tinggi yaitu Madrasah Tsanawiyah (dahulu MMP) yang didirikan tahun 1959 dan Madrasah Aliyah (dahulu MMA) yang didirikan sepuluh tahun kemudian yakni pada tahun 1969.
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa semangat beliau dalam mencerdas-akhlaqkan generasi muda sangat tinggi atau dapat dilihat dari cara beliau berfikir yang menampakkan progresifitas ide jauh ke depan. Sebagai salah satu buktinya, semenjak tahun 1979 beliau sudah mempunyai ide untuk mendirikan lembaga pendidikan lanjutan pertama dan atas yang bersifat umum (SMP dan SMA), perguruan tinggi, rumah sakit, dan penerbitan. Biar pun pendidikan lembaga umum tersebut belum didirikan hingga beliau kembali ke Rahmatulloh, namun tebaran ide itu masih senantiasa beredar dalam komunitas penerusnya untuk diambil sebagai program pengembangan pesantren pada masa sekarang dan ke depan.
Hingga 20 Januari 1983 saat K.H. Soefyan Abdul Wahab pulang ke Rahmatullah, jumlah murid dan santri Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar dengan berbagai unit yang ada yaitu Madrasah Banin Banat, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah sudah cukup lumayan yaitu lebih 1250 orang. Namun, tidak berarti bahwa dengan wafatnya beliau pengembangan pesantren menjadi stagnan, justru semangat dan cita-cita beliau senantiasa dilanjutkan dengan memegang mata rantai penghargaan terhadap tradisi yang ada dengan terus berusaha mengaktualisasikan, inovatif dan akomodatif terhadap perkembangan baru di sekelilingnya.
Setelah meninggalnya beliau, maka kepemimpinan dilanjutkan oleh K.H. Mahsuli Effendi dan putra-putra menantu beliau antara lain Drs. K.H. Masykuri Shodiq, S.H., Drs. K.H. Moh.Taufiq dan Drs. K.H. Saifuddin Zuhri, MA. Selain itu, tentu saja peran dari Ibu Nyai Hj. Masfiyah Soefyan sebagai orang tua yang sangat bijaksana dan pengayom yang baik, serta putri-putri beliau yakni Ny. Hj. Shofiyah Mahsuli, Ny. Dra. Hj. Siti Zaenab Anwar, Ny. Dra. Hj. Siti Djamilah Masykuri, Ny. Hj. Dra. Siti Aisyah Taufiq, dan Ny. Dra. Hj. Khotimah Suryani Saifuddin juga cukup mewarnai dinamika kepemimpinan yang ada. Hampir tidak ada keputusan penting yang di ambil lembaga ini tanpa melalui ijin, restu dan istikharah Ibu Nyai Hj. Masfiyah Soefyan.
Formasi kepemimpinan tersebut berkurang sejak tahun 2001, yakni ketika dua putra menantu beliau Kyai Masykuri dan Kyai Saifuddin dipanggil ke Haribaan Yang Maha Kuasa pada tanggal 26 Juni 2001, atau tiga hari sebelum pelaksanaan Haul Kyai Soefyan yang ke XVIII.
Adapun pendidikan formal yang ada hingga dewasa ini, bukan hanya Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah (sebagaimana ketika Kyai Soefyan wafat). Namun dengan pertolongan dan ridlo dari Alloh SWT, ide beliau untuk mendirikan sekolah umum telah terwujud, yaitu SMP NU berdiri tahun 1985, SMEA NU 1 berdiri tahun 1986 dan Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) berdiri tahun 1989 dengan delapan Fakultas dan lima belas program studi strata satu dan dua, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Matematika, Ilmu Hukum, Manajemen, Akuntansi, Agronomi, Teknik Sipil, Teknik Arsitektur, Pendidikan Agama Islam, Ilmu Politik, Ilmu Pemerintahan, Matematika, Magister Pendidikan Islam, dan Magister Pendidikan. Adapun jumlah santri, siswa dan mahasiswa, hingga dewasa ini adalah 4.679 orang.
Demikian sekilas pondok pesantren dan riwayat singkat Al maghfurlah Kyai Soefyan berikut ide-ide dan pandangan beliau yang kiranya patut dijadikan sebagai teladan bagi pengabdian kita pada Alloh SWT. Teriring harapan, semoga seluruh amal, ide, perjuangan dan ibadah beliau menjadi amal sholeh di hadapan Alloh SWT dan kita yang hidup dapat meneruskan dan mengembangkannya. Amin Yarobbal Alamin.
Wallohul Musta’an Ila Sabilirrohman
Wallohul Muwafiq Ila Aqwamitthoriq
Wasalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.


Disusun di Lamongan 22 Agustus 1996 (Haul ke XIII)
Diedit kembali di Lamongan 06 April 2008 (Haul ke XXV)

Selasa, 18 Maret 2008

Memperingati Maulid Nabi SAW


Diantara Sifat dan Keluhuran Rosullullah dalam Al Barzanji:


Beliau adalah manusia yang paling sempurna bentuk tubuhnya, perangainya, memiliki tubuh dan sifat-sifat yang luhur. Ukuran tubuhnya sedang, putih kemerah-merahan warna kulitnya, lebar matanya, bercelak, tebal bibirnya, kedua alisnya tipis dan panjang. Gigi serinya renggang, mulutnya lebar dan bagus. Dahinya lebar dan berdahi bulan muda. Datar pipinya, hidungnya tampak sedikit tinggi dan mancung. Berdada bidang, telapak tangannya lebar, tulang persendiannya lebar, daging tumitnya sedikit, jenggotnya tebal, kepalanya besar, rambutnya sampai ke daun telinga.

Di antara bahunya terdapat cap kenabian yang telah dirantai oleh cahaya. Peluhnya jernih bagaikan mutiara, dan baunya lebih semerbak daripada harumnya kesturi.

Cara jalan beliau tenang, seolah-olah beliau turun dari tempat yang tinggi. Bila beliau menjabat tangan orang dengan tangannya yang mulai, orang itu mendapatinya bau semerbak sepanjang hari.

Bila beliau meletakkan tangannya di atas kepala anak-anak, diketahuilah sentuhannya pada anak itu ditengah-tengah anak-anak lainnya (dapat diketahui anak mana yang telah disentuh Rasulullah).

Wajah beliau yang mulia cemerlang seperti cemerlangnya bulan purnama. Orang yang mensifatinya berkata, "Aku tidak melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seperti dia. Dan tidak ada pula manusia yang melihat sepertinya".

***

Beliau seorang yang amat pemalu dan rendah hati. Beliau mengesol sendiri sandalnya, menambal pakaiannya, dan memerah kambingnya. Beliau melayani keluarganya dengan perilaku yang baik.

Beliau mencintai orang-orang fakir miskin dan duduk bersama mereka, menjenguk orang-orang sakit diantara mereka, mengiringi jenazah mereka, tidak menghina orang fakir dan tidak membiarkannya fakir.

Beliau menerima alasan, dan tidak menghadapi seseorang dengan sesuatu yang tidak disukai.

Beliau berjalan dengan janda-janda dan hamba sahaya. Beliau tidak takut kepada raja-raja, dan beliau marah karena Allah Ta'ala dan ridla karena keridlaanNya.

Beliau berjalan dibelakang para sahabatnya dan bersabda, "kosongkanlah belakangku untuk Malaikat Ruhaniyyah!", Beliau mengendarai unta, kuda, baghal (peranakan kuda dan keledai), dan keledai yang dihadiahkan sebagian raja kepadanya.

Beliau ikatkan batu diperutnya karena lapar, padahal beliau telah diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi. Gunung-gunung merayunya untuk menjadi emas baginya, namun beliau menolaknya. Beliau menyedikitkan hal-hal yang berkaitan dengan dunia.

Beliau memulai salam kepada orang yang bertemu dengannya.

Beliau panjangkan shalat dan beliau pendekkan khuthbah Jum'at. Beliau simpati kepada orang-orang mulia, beliau hormati orang-orang utama. Beliau bergurau tapi tidak mengatakan kecuali yang benar yang disukai oleh Allah Ta'ala.

****

note al faqir:

semoga dapat menjadikan kecintaan kita pada Rasulullah, Manusia Teragung dalam Kehidupan ummat Manusia. Semoga kita dapat meneladani sifat-sifatnya yang luhur, perilakunya yang mulia. Semoga kita hanya menjadikan beliau sebai manusia panutan, teladan, idola untuk kesempurnaan, keselamatan, dan kedamaian kehidupan kita di dunia dan akhirat.

Ya Rosul, betapa gegap gempitanya namamu dan kelahiranmu bagi ummat sejagat. Kelahiranmu merupakan nikmat terbesar dan teragung sepanjang masa, dan kewafatanmu merupakan bencana dan kepahitan yang teramat dalam bagi ummat manusia.

Imam Suyuthi dalam kitab yang ditulisnya al-Hawi Li al-Fatawi mengemukan: “Sesungguhnya kelahiran Rasululloh SAW merupakan nikmat teragung yang dianugrahkan Allah SWT kepada kita, dan wafatnya beliau adalah musibah terbesar bagi kita. Syariat telah memerintahkan kepada kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat yang kita peroleh, dan bersabar serta tenang dalam menghadapi musibah.”

Jelaslah, bahwa kita harus mensyukuri diutusnya Rasululloh sehingga syari'at dan ajarannya bisa sampai pada kita sekalian. Walaupun pujian apapun yang kita sanjungkan pada Kekasih Allah itu tidaklah akan pernah sepadan dengan kasih sayang beliau kepada kita ummatnya yang senantiasa dimohonkannya, dikhawatirkannya, dipikirkannya dalam setiap munajatnya kepada Allah SWT.

Ummati... ummati... ummati...

Dan yang paling penting syafaatnya yang dijanjikan pada ummatnya kelak, sesuatu yang tidak dipunyai oleh Nabi-nabi lain selain Rasulullah.


***

Muhammad Ya Habibullah

Muhammad Ya Khira Khalqillah

Muhammad Ya Qurrata Aini
Anta Syamsun Anta badrun
Anta Nurun Fauqa Nuri
Ma Li Habibun Siwa Muhammad
Khoirir Rusul Nabi Mukarram
Fi hubbi Sayyidina Muhammad
Nurul Li Badri Huda Mutammam

(Unisda, 1:40, 11 rabiul awwal 1429 H)