Rabu, 17 Desember 2008

Mengkader Pemimpin NU: Berorganisasi dalam Akhlaqul Karimah


Oleh: M. Afif Hasbullah[1]

Kemarin saya bicara-bicara dengan beberapa anak muda NU, sebelumnya juga kerap ngobrol dengan tokoh NU mengenai kepemimpinan. Biasa, karena bicara kepemimpinan jadinya melebar kesana kemari. Tidak hanya sebatas pada kepemimpinan dalam organisasi NU saja, namun meluas ke area kepemimpinan masyarakat dalam bentuk pemimpin pemerintahan yang dipegang oleh kaum nahdliyin.

Secara historis, NU didirikan oleh para mussisin nya dengan tujuan sebagai wadah komunitas ahlussunnah wal jamaah dalam rangka menyatu padukan umat untuk tetap dalam garis aswaja dan ajaran para pendahulu. Organisasi ini juga dimaksudkan sebagai lokomotif ummat untuk mempertahankan ajaran dan tradisinya. Walaupun demikian, tujuan yang lebih berdimensi ubudiyah-diniyah itu tidak kemudian menutup peran NU dalam bidang sosial kemasyarakatan, entah itu adalah aspek ekonomi, politik, maupun budaya. Bahkan kala jaman perang sekalipun, dalam rangka untuk mempertahankan NKRI, NU mengeluarkan resolusi jihad sebagai suatu fatwa yang memberi arahan perjuangan buat ummat Islam dalam mengusir penjajah.

Hasilnya, dalam beberapa arena perjuangan, yang tidak terbatas pada perjuangan fisik, semua fatwa dan garis NU dapat diikuti oleh ummat dengan penuh semangat dan heroisme. Demikian pula makna perjuangan atau jihad yang sementara ini masih disalah pahami dansalah tafsirkan, oleh NU dapat dipimpin menuju suatu wilayah pemaknaan jihad yang sejati dalam konsep Islam rahmatan lil alamin.

NU jelas memimpin dalam perjuangan kebangsaan. Namun apakah juga demikian dengan para elitnya, tokohnya, dan para alim ulama yang ada dalam organisasi NU?. Saya kira mereka semua juga pemimpin, karena tidak mungkin seorang ulama yang mendirikan NU itu sendiri malah bukan disebut seorang pemimpin. Mereka semua yang telah mendedikasikan hidup dan waktunya untuk keluhuran jamiyah adalah pemimpin-pemimpin besar ummat yang senantiasa dinanti petunjuknya oleh ummat.

Hebatnya, di antara mereka yang memimpin itu ternyata bukan alumnus dari lembaga pendidikan moderen dan barat yang saat itu menjadi yang model pendidikan paling bergengsi. Justru mereka ”hanyalah” didikan pendidikan lokal model pesantren dan pengajian langgaran. Namun jangan dikira bahwa dengan pendidikan tradisional yang semacam itu mengakibatkan mereka menjadi picik, kuno dan berwawasan dangkal. Kenyataan yang ada, mereka dapat membuktikan dirinya menjadi pemimpin visioner masa depan. Wawasan yang dikemukakan terbukti di era mutakhir masih tetap relevan dan bahkan melampaui batas-batas waktu di mana mereka dilahirkan dan hidup.

Pola pemikiran yang diusung NU hingga kini, yakni tawassuth, tasammuh, tawazun, i’tidal dalam bingkai rahmatan lil alamin terbukti merupakan wawasan Islam yang dapat diterima oleh semua komponen dalam berbangsa maupun bermasyarakat dunia. Hasilnya, Islam menjadi cantik dan indah. Dari sana akan mendorong simpati masyarakat dunia dalam memandang hakikat Islam yang damai.

Islam menjadi menarik. Kemenarikan Islam yang kemudian mewujud dalam potret dakwah Islam yang mengesankan. Dalam posisi ini, secara organisasi NU pun terangkat dengan kewibawaannya dalam pentas Dunia.

Kita juga masih ingat peran NU mengirim resolusi jihad ke Raja Ibnu Saud di Arab Saudi pada tahun 1926 yang mengadvokasi agar amaliyah ahlussunnah wal jamaah dapat diperkenankan pelaksanaannya di negara Arab Saudi yang ketika itu masih awal dikuasai oleh pemerintahan Wahabi. Alhamdulillah, langkah yang demikian ini ternyata membawa manfaat. Missi Komite Hijaz berhasil dengan bentuk respon positif penguasa Wahabi terhadap kebebasan penganut ahlussunnah wal jamaah untuk mengamalkan tradisi keagamaannya di Saudi.

Kita tentu masih ingat pula peran yang dilakukan oleh PBNU sejak era Abdurrahman Wahid sampai Hasyim Muzadi yang tidak pernah absen menjadi leader dalam forum-forum dunia Islam maupun antar agama. Tercatat beberapa kali konferensi agama baik yang diadakan di dalam negeri maupun luar negeri yang diinisiasi NU. NU memang sudah selayaknya seperti itu, memainkan perannya di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan sekaligus menjadi ormas Islam terbesar di dunia.

***

Semua itu tentu adalah karena kiprah kader-kader NU yang berwatak pemimpin. Mereka telah dilahirkan dan dididik dengan semangat memimpin yang kemudian mengantar para tokoh NU itu menjadi pemimpin sejati, tidak hanya dalam lingkup ummat namun juga dalam komunitas di luarnya.

Akan tetapi, dalam obrolan ringan dengan para kolega dan anak muda NU masih sering juga ada keluhan bahwa mereka masih belum merasa punya kebanggaan yang total dalam memimpin di tengah masyarakat. Biasanya keluhan macam ini muncul ketika masa pemilihan calon pemimpin pemerintahan. Misalnya ketika ada event pemilihan kepala daerah, seringkali NU terkesan kesulitan untuk memunculkan sosok calon terbaik. Walaupun hal itu dapat dikatakan sebatas keraguan semata, artinya kesulitan yang seolah nampak itu sebenarnya diakibatkan oleh dugaan ketidakyakinan pada sosok yang muncul atau akan dimunculkan. Keraguan mana dari apriori yang kerap muncul mengenai kapabilitas seseorang calon pemimpin.

Dengan kebiasaan mencurigai atau tidak mempercayai calon pemimpin yang seperti itu, dapat mengakibatkan hilangnya semangat untuk memunculkan diri maupun orang lain pada publik, karena khawatir belum-belum sudah direspon tidak baik.

Hemat saya, NU harus membuat suatu sistem kaderisasi yang berjenjang untuk senantiasa melahirkan pemimpin-pemimpin baru sebagai pengganti para seniornya. Karena dengan semakin banyaknya muncul calon-calon pemimpin di kalangan NU itu justru baik. Asal, munculnya calon yang banyak tersebut tidak menjadikan keterpecahan ummat dan saling menjatuhkan karir masing-masing. Demikian pula, banyaknya pemunculan calon pemimpin di lingkungan NU dapat mengindikasikan bahwa kaderisasi calon pemimpin di NU berjalan dengan baik. Dengan kata lain, NU menjadi pabrik calon pemimpin.

Hanya saja yang harus diberikan garis bawah adalah, harus ada mekanisme keorganisasian yang pada akhirnya memunculkan calon akhir yang berwujud pada kebersatuan ummat dalam suatu kepemimpinan. Bukan merupakan sistem kaderisasi calon pemimpin yang mana tidak dapat mempersatukan ummat.

Jadi NU harus mempunyai mekanisme yang tertuang dalam norma organisasi yang dapat mengkerucutkan calon-calon pemimpin menjadi pemimpin seutuhnya. Norma yang ada bukan sebatas di atas kertas, namun harus dapat membudaya di dalam organisasi. Jangan kemudian seolah membiarkan, masing-masing elit berjalan sendiri dengan calonnya masing-masing yang tidak pernah ketemu dan menjadi satu dengan calon pemimpin dari elit lainnya.

Secara organisasi, apabila NU dapat menyinergikan, ini luar biasa. Organisasi bisa kuat dan berwibawa, baik dalam oirganisasi itu sendiri juga dengan pihak luar NU. Dengan bahasa sederhana jamiyah kuat jamaah pun akan kuat pula.

Dalam suatu contoh sederhana, betapa efektif dan efisiennya suatu pemilihan kepala daerah bila calon NU mengerucut satu pasangan. Biaya, waktu, tenaga, dan bahkan emosi warga dan simpatisan dapat di hemat. Pilgub Jawa Timur saja sudah dapat menjelaskan kepada khalayak, di sana ada 4 orang atau pasangan yang mengaku NU, kemudian hasil pemilunya dua putaran, itupun masih ada putaran tambahan sebagai akibat dari gugatan salah satu pasangan. Jadi, semua yang bermain di Pilgub Jatim itu adalah NU semua, semua juga keluar biaya yang tidak sedikit. Coba misalnya cagub NU nya satu pasang saja, pasti lekas beres dan NU yang menang. Uang-uang kampanye dari semua calon itu dibayangkan akan diberikan untuk jamiyah, luar biasa pasti keuntungan dakwahnya.

Penghematan itu belum yang masuk kategori cost politik dan sosial. Pasti impactnya sangat besar. Saya mengkaitkan dengan biaya sosial politik seperti itu bukan tanpa alasan. Event pemilihan kepala daerah banyak menyisakan akibat sosial yang saeringkali tidak menguntungkan. Keterpecahan masyarakat, faksi politik yang timbul, keterbelahan kyai, sampai pada clash fisik yang rentan ditimbulkan oleh emosi karena kegiatan sosial politik.

Mau tidak mau, pola pelahiran calon pemimpin yang seperti itu sudah selayaknya disudahi dengan mekanisme organisasi. Ayo banyak mengajukan calon pemimpin yang pantas, tanya hati nurani siapa seharusnya yang patut untuk ditawarkan. Namun juga harus dicatat, bahwa dengan semangat organisasi pula kita harus siap siapa yang akan maju, termasuk bila yang terpilih bukan kita atau calon yang kita dukung. Asal semua sesuai koridor, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung seorang calon dalam organisasi NU.

NU sebagai ormas, sama dengan ormas lain tentu berfungsi sebagai organisasi kader. Sebagai ormas pula NU mesti demokratis dengan mengikuti asas-asas organisasi moderen. Mungkin disana disini kerap muncul persaingan dalam bingkai politik sebuah organisasi, itu lumrah juga terjadi dalam NU sekalipun sebagai ormas besar. Namun, yang membedakan NU dengan ormas kebanyakan adalah asasnya yang Islam ahlussunnah wal Jamaah dengan tradisi menjunjung tinggi akhlaqul karimah. Apa artinya?, cara kita berorganisasi di NU harus lebih santun dan berakhlaq sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad dan para Sahabat serta para kyai.

Berpolitik dan berorganisasilah, menangkan setiap percaturan sosial politik. Namun, ingat akhlaqul karimah dalam setiap tindakan. Karena tidak ada kemaslahatan sejati yang akan dihasilkan dari suatu aktifitas organisasi dan politik yang tidak menjunjung akhlaqul karimah. Sekian.



[1] Ditulis 17 Desember 2008 di Café JCo Supermall Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar